Dilema Atalarik Syach Hadapi Putra Sulung yang Beranjak Remaja: Ada Rasa Khawatir dan Ego
Senin, 06 Apr 2026 00:07 WIB
Kabarmalam.com — Masa transisi dari fase kanak-kanak menuju remaja sering kali menghadirkan gejolak emosi tersendiri bagi para orang tua. Hal inilah yang tengah dirasakan oleh aktor kawakan Atalarik Syach. Ia secara terbuka mengungkapkan rasa was-wasnya saat melihat putra sulungnya kini mulai menapaki usia ABG (Anak Baru Gede).
Atalarik mengaku ada perasaan campur aduk saat mengamati perubahan fisik dan perubahan sikap sang buah hati. Meski secara fisik suaranya belum sepenuhnya berubah atau “pecah”, namun tanda-tanda kedewasaan mulai tampak jelas di depan mata.
Kekhawatiran Atalarik Syach Terhadap Gejolak Ego Remaja
Ditemui di kawasan Cibinong, Bogor, pria yang akrab disapa Arik ini tak menampik bahwa ada rasa “seram” saat menghadapi perkembangan anak yang berjalan begitu cepat. Ia bahkan sempat berseloroh meminta putranya untuk tidak terburu-buru tumbuh dewasa.
“Iya, serem lho ABG-nya. Saya bilang jangan buru-buru gede, apalagi suaranya belum pecah, masih suara anak-anak. Saya lihat, oh ya belum, jadi saya bilang ‘jangan cepat-cepat gede Bang’,” ujar Atalarik dengan nada penuh perhatian.
Bagi Atalarik, tantangan terbesar bukanlah sekadar perubahan fisik, melainkan munculnya ego dan sikap merasa paling tahu yang umum dialami remaja. Sebagai seorang ayah, ia menganggap wajar jika ada ketakutan tersendiri, terutama saat melihat sang anak mulai menunjukkan keinginan untuk mencoba hal-hal baru secara mandiri.
“Wajar buat seorang ayah di seluruh dunia. Saya merasakannya sekarang, punya anak mau remaja itu sudah punya egonya sendiri, sok tahunya sendiri. Ada ketakutan jika dia melakukan kesalahan yang dulu pernah saya buat, tapi sepertinya dia memang ingin mencoba. Itu yang bikin saya merasa was-was,” tambahnya lagi.
Seni Mendidik: Menanamkan Tanggung Jawab Sejak Dini
Guna menghadapi fase yang menantang tersebut, bintang sinetron ini menerapkan pola asuh anak yang cukup disiplin namun tetap memberikan ruang bagi kreativitas anak-anaknya. Ia sangat menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kewajiban dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu metode yang diterapkan oleh Atalarik Syach adalah dengan memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya untuk mengelola “teritorial” atau wilayah pribadi mereka sendiri, seperti kamar tidur dan kebersihan area privasi mereka.
- Kemandirian: Anak-anak diberikan kamar pribadi untuk melatih rasa memiliki dan privasi.
- Tanggung Jawab Domestik: Memastikan kebersihan kamar mandi dan kerapian ruang tidur menjadi tugas utama yang harus diselesaikan.
- Observasi Konsistensi: Atalarik memantau sejauh mana anak-anak menjalankan kewajiban tanpa perlu terus-menerus diingatkan.
Menurut Atalarik, dengan memberikan ruang atau teritorial pribadi, anak-anak akan belajar lebih cepat mengenai konsekuensi dari setiap tindakan mereka. Ia berharap dengan keseimbangan antara kebebasan yang bertanggung jawab dan pengawasan yang bijak, putra-putrinya dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat di tengah dinamika pergaulan masa kini.