Memilih Waras di Usia 26: Kisah Salma Zuhara Lepaskan Diri dari Kartu Keluarga Demi Pulihkan Trauma
Sabtu, 06 Jun 2026 07:35 WIB
Kabarmalam.com — Menjaga jarak dari keluarga sering kali dianggap sebagai bentuk pembangkangan di tengah budaya masyarakat kita. Namun, bagi Dewi Salma Zuhara, langkah tersebut adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya. Wanita berusia 26 tahun asal Kudus, Jawa Tengah, ini mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah mengunggah foto Kartu Keluarga (KK) terbarunya. Bukan karena pernikahan, melainkan karena namanya kini berdiri tunggal sebagai kepala keluarga.
Melalui akun Instagram pribadinya, Salma membagikan momen emosional saat ia resmi memisahkan diri secara administratif dari orang tuanya. Keputusan yang terlihat ekstrem ini nyatanya lahir dari perenungan panjang selama bertahun-tahun. Baginya, lembaran kertas negara itu bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan simbol kebebasan dari belenggu trauma masa kecil dan kekerasan mental yang selama ini ia pendam sendirian.
Luka di Balik Pengorbanan yang Tak Dianggap
Dibalik senyumnya yang kini tampak lebih lega, Salma menyimpan narasi pilu tentang pengabdian yang berbalas pengabaian. Selama hampir 25 tahun, ia merasa keberadaannya tidak pernah benar-benar diakui. Sebagai anak dari seorang single parent, Salma telah berjuang keras membantu ekonomi keluarga sejak masih duduk di bangku SMA. Ia tidak ingin menjadi beban, justru ia memilih menjadi penopang.
Kisah ini semakin menyayat hati saat Salma menceritakan bagaimana ia menjadi penyelamat ketika usaha ibunya nyaris kolaps akibat jeratan utang pinjaman online (pinjol). Dengan kemampuannya, Salma mempromosikan bisnis sang ibu hingga viral dan meraup omzet puluhan juta rupiah. Namun, kesehatan mental Salma justru semakin tergerus karena meski telah berkorban banyak, ia tetap merasa asing di rumahnya sendiri.
Puncak Keretakan di Oktober 2024
Hubungan yang sudah rapuh itu akhirnya mencapai titik nadir pada Oktober 2024. Setelah sebuah perselisihan hebat, Salma mengalami perlakuan yang sangat diskriminatif. Ia mengaku tidak diberi makan oleh ibunya selama setahun penuh, sementara di depan matanya sendiri, ia melihat adik-adiknya diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Luka lama kembali terbuka; ia teringat saat momen wisuda SMA-nya tak dihadiri oleh sang ibu, berbanding terbalik dengan kehadiran penuh sang ibu di setiap momen penting adik-adiknya.
“Ini bukan keputusan emosional sesaat. Ini adalah akumulasi dari rasa tidak dihargai, disepelekan, hingga ditelantarkan secara emosional selama bertahun-tahun,” ungkap Salma kepada tim redaksi. Keputusannya untuk pecah KK adalah bentuk pertahanan diri terakhir agar ia tidak hancur lebih dalam lagi.
Melangkah Tanpa Dendam
Meskipun menempuh jalan yang cukup radikal, Salma menegaskan bahwa ia telah mengikhlaskan segala hal yang terjadi di masa lalu. Ia tidak menyimpan dendam, namun ia memilih untuk membatasi akses demi ketenangan batin. Baginya, memulai hidup baru tanpa bayang-bayang label negatif dari orang lain adalah prioritas utama saat ini.
Unggahan kisah viral ini menuai beragam reaksi dari warganet. Ada yang memberikan dukungan penuh atas keberaniannya memutus rantai trauma, namun ada pula yang menyarankan untuk tetap bersabar. Kendati demikian, bagi Salma, langkah ini adalah awal dari kehidupan yang ia pilih sendiri, di mana ia akhirnya berani berdiri di atas namanya sendiri tanpa rasa takut lagi.