Tragedi Operasi Kelopak Mata: Niat Tampil Cantik Berujung Nestapa Mata Tak Bisa Terpejam
Selasa, 02 Jun 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Impian untuk memiliki paras sempurna seketika berubah menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai bagi seorang wanita di China bernama Wang. Niat hati ingin mempercantik diri melalui prosedur kelopak mata ganda atau double eyelid surgery, ia justru harus menelan pil pahit karena kehilangan kemampuan untuk memejamkan mata secara normal.
Kronologi Prosedur yang Menghancurkan Hidup
Kisah pilu ini bermula pada Juni 2020 silam di sebuah klinik kecantikan di Suzhou, Provinsi Jiangsu. Tergiur dengan janji transformasi wajah, Wang rela merogoh kocek sebesar 12.000 yuan atau sekitar Rp 31,6 juta. Namun, di balik biaya yang cukup besar tersebut, tersimpan ketidakprofesionalan yang fatal.
Prosedur operasi kecantikan tersebut ditangani oleh seorang wanita bermarga Meng. Mirisnya, Meng bukanlah seorang tenaga medis profesional, melainkan hanya menjabat sebagai direktur pemasaran di klinik tersebut. Tak butuh waktu lama bagi Wang untuk merasakan ada yang salah. Hanya berselang beberapa jam setelah tindakan, ia merasakan nyeri hebat yang menyiksa.
Komplikasi Serius dan Vonis Disabilitas
Kondisi Wang pasca-operasi sangat memprihatinkan. Kelopak matanya tampak terbalik dan terjadi penumpukan cairan yang sangat parah, memaksanya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat. Saat mencoba meminta pertanggungjawaban, Wang justru mendapatkan respons dingin dari pihak klinik yang mengklaim kondisi tersebut akan membaik dengan sendirinya.
Pemeriksaan mendalam di rumah sakit besar mengungkap fakta yang lebih mengejutkan. Dokter menemukan adanya kerusakan permanen pada kelenjar air mata Wang akibat teknik operasi yang keliru. Meski telah menjalani tindakan korektif tambahan, kelopak matanya tetap tidak bisa menutup dengan sempurna.
Dampak dari malapraktik ini merembet ke segala aspek hidupnya. Wang kini menderita mata berair kronis, depresi berat, hingga insomnia akut karena kesulitan tidur dengan mata yang terus terbuka. Pada tahun 2022, lembaga forensik setempat bahkan menetapkan kondisi Wang sebagai disabilitas tingkat sembilan.
Pertarungan Hukum dan Ironi Kompensasi
Penyelidikan oleh otoritas kesehatan akhirnya mengungkap borok klinik tersebut. Selain Meng yang tidak memiliki sertifikat dokter sah, klinik tersebut ternyata beroperasi tanpa izin resmi dan akhirnya ditutup. Wang pun menempuh jalur hukum untuk mencari keadilan.
Awalnya, tercapai kesepakatan damai di mana Meng setuju membayar kompensasi sebesar 850.000 yuan atau sekitar Rp 2,2 miliar. Namun, kompensasi ini datang dengan syarat bungkam: Wang harus menghapus seluruh unggahan tentang kasusnya di media sosial dan tidak membicarakannya lagi kepada publik.
Konflik kembali pecah saat Wang merasa diserang oleh unggahan Meng di media sosial. Wang pun membalas dengan mengungkap kembali dokumen praktik ilegal tersebut. Perseteruan ini berakhir di pengadilan dengan keputusan yang menyakitkan bagi Wang; ia diperintahkan mengembalikan 400.000 yuan (sekitar Rp 1 miliar) karena dianggap melanggar perjanjian tutup mulut.
Pelajaran Berharga dari Kegagalan Prosedur Medis
Kasus yang menimpa Wang hanyalah satu dari sekian banyak fenomena prosedur medis ilegal yang marak terjadi. Di China, insiden serupa sering terdengar, mulai dari kasus infeksi parah pasca-sedot lemak hingga kerusakan saraf wajah akibat tren operasi telinga peri.
Melalui pengalamannya, Wang berpesan agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan tawaran kecantikan instan tanpa riset yang mendalam. “Pikirkan dengan sangat matang sebelum menjalani operasi kosmetik karena penyesalannya bisa berlangsung seumur hidup,” tuturnya dengan penuh sesal.
Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa di balik kilau industri kecantikan, terdapat risiko besar yang mengintai jika faktor keamanan dan legalitas diabaikan.