Bukan Menantu Idaman? Terungkap Alasan Ratu Camilla Sempat Menentang Pernikahan Kate Middleton dan Pangeran William
Rabu, 27 Mei 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik senyum hangat dan keakraban yang kerap mereka pertontonkan di depan lensa kamera, tersimpan sebuah narasi masa lalu yang cukup mengejutkan antara Ratu Camilla dan menantunya, Putri Catherine atau yang akrab disapa Kate Middleton. Siapa sangka, jalan Kate menuju mahkota nyatanya tidak semulus yang dibayangkan, lantaran sempat mendapat penolakan dari dalam lingkaran utama keluarga kerajaan.
Garis Keturunan yang Dianggap ‘Terlalu Biasa’
Sebuah biografi terbaru berjudul “Kate!” karya Christopher Andersen membedah sisi gelap dari awal hubungan Pangeran William dan Kate Middleton. Dalam buku tersebut, Andersen mengungkap bahwa Camilla pernah menjadi salah satu sosok yang paling vokal menentang hubungan tersebut pada tahun 2011 silam. Alasannya cukup klasik sekaligus tajam: Kate dianggap tidak memiliki darah biru yang cukup kental untuk bersanding dengan calon raja Inggris.
Camilla dikabarkan memandang Kate sebagai sosok yang ‘terlalu biasa’. Menurut catatan Andersen, Camilla menilai latar belakang keluarga Kate tidak memiliki silsilah aristokrat yang selama ini menjadi standar baku dalam tradisi Keluarga Kerajaan Inggris. Kate, yang pertama kali bertemu William saat menempuh studi di Universitas St Andrews, Skotlandia, dipandang bukan berasal dari kalangan elite tradisional yang biasanya menjadi pilihan utama bagi para pangeran.
Perselisihan Pandangan dan Latar Belakang Keluarga
Tidak hanya soal status sosial, Camilla juga disebut-sebut memiliki keraguan terhadap keluarga besar Middleton. Orang tua Kate, Carole dan Michael Middleton, memang merupakan sosok yang gigih. Mereka membangun kejayaan ekonomi melalui bisnis perlengkapan pesta setelah sebelumnya bekerja sebagai staf maskapai British Airways. Namun, bagi Camilla, Carole Middleton justru dipandang sebagai sosok yang oportunis.
Andersen menuliskan bahwa Camilla memiliki keyakinan teguh bahwa seorang calon Raja Inggris seharusnya mempersunting seseorang dari garis keturunan bangsawan yang sah. Ketidaksetujuan ini sempat menciptakan ketegangan dingin di balik pintu istana, meskipun hingga saat ini pihak perwakilan Ratu Camilla maupun Kate Middleton memilih untuk tutup mulut dan tidak memberikan komentar resmi atas klaim dalam buku tersebut.
Drama Inisial Nama di Balik Pernikahan Agung
Satu fakta menarik yang juga terungkap adalah upaya untuk mengubah identitas Kate menjelang hari pernikahannya. Camilla dan Raja Charles III dikabarkan sempat meminta Kate untuk mengubah ejaan inisial namanya dari huruf “C” (Catherine) menjadi “K” (Katherine). Hal ini dilakukan dengan alasan teknis agar tidak terjadi kebingungan atau tumpang tindih pada simbol dan monogram kerajaan yang sudah ada. Namun, upaya ini berujung gagal setelah Pangeran William dikabarkan pasang badan dan menolak tegas permintaan tersebut demi menghormati identitas calon istrinya.
Membuktikan Diri Melalui Waktu
Terlepas dari segala keraguan dan penolakan yang membayangi di awal, waktu telah membuktikan kualitas seorang Kate Middleton. Sejak resmi menikah pada April 2011 dan dikaruniai tiga buah hati—Pangeran George, Putri Charlotte, dan Pangeran Louis—Kate telah bertransformasi menjadi pilar kekuatan baru bagi monarki Inggris. Ia berhasil menjalankan tugas-tugas kenegaraan dengan sangat anggun, tanpa cela, dan mendapat tempat di hati masyarakat dunia.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa bahkan di dalam istana yang penuh dengan protokol kaku, ketulusan dan integritas mampu meruntuhkan tembok prasangka. Kate Middleton kini bukan sekadar menantu, melainkan sosok penting yang membuktikan bahwa latar belakang ‘biasa’ tidak menjadi penghalang untuk menjadi bagian luar biasa dari sejarah dunia.