Horor di Balik Poliandri Martina Esqueda: Dalangi Penyiksaan Sadis Kekasih Selama 10 Hari
Senin, 25 Mei 2026 12:34 WIB
Kabarmalam.com — Tabir gelap kehidupan domestik Martina Esqueda akhirnya tersingkap di meja hijau dengan fakta yang mencengangkan sekaligus mengerikan. Wanita asal Ohio, Amerika Serikat ini, tidak hanya menjadi sorotan karena praktik poliandri yang dijalaninya secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga karena tindakan kriminal luar biasa yang membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi selama 22 tahun ke depan.
Lingkaran Hubungan yang Tak Lazim
Martina Esqueda diketahui menjalani kehidupan yang jauh dari norma umum. Meski secara hukum berstatus sebagai istri sah dari Michael Esqueda, ia ternyata berbagi atap dengan lima pria lain yang semuanya merupakan kekasihnya. Mereka adalah Austyn McCellan, Aaron, Austin Bradshaw, Chance Johnston, dan David Cessna. Kehidupan yang tampak penuh harmoni di permukaan itu berubah menjadi tragedi berdarah ketika ego dan amarah Martina meledak.
Picu Kemarahan Akibat Insiden Sepele
Prahara ini bermula pada Maret 2025. Saat itu, Martina dan salah satu kekasihnya, Austyn McCellan, berusaha melerai dua ekor anjing yang tengah berkelahi di kediaman mereka. Dalam kekacauan tersebut, Martina mengalami cedera patah tulang lengan. Bukannya menganggap hal itu sebagai kecelakaan, ia justru menuding McCellan sebagai penyebab utama cederanya.
Dendam yang menyulut amarah Martina berujung pada sebuah rencana jahat. Dengan pengaruh kuat yang dimilikinya, ia memerintahkan para suami dan kekasih lainnya untuk melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap McCellan.
Sepuluh Hari dalam Neraka
Atas instruksi dingin dari Martina, McCellan diculik dan dibawa ke sebuah motel terpencil. Di sanalah korban menjalani masa-masa paling kelam dalam hidupnya. Selama sepuluh hari penuh, McCellan disekap dan dijadikan samsak hidup. Para pelaku, di bawah komando Martina, secara brutal memukuli korban menggunakan kepalan tangan hingga tongkat baseball.
Tidak hanya mengalami penyiksaan fisik yang mengakibatkan serangkaian patah tulang, McCellan juga dipaksa bertahan hidup tanpa asupan makanan yang layak dan dilarang tidur. Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa Martina adalah otak kriminal di balik aksi ini, memberikan instruksi spesifik mengenai bagian tubuh mana yang harus diserang.
Pelarian dan Putusan Hakim
Keajaiban datang ketika McCellan akhirnya mendapatkan celah untuk melarikan diri saat diizinkan pergi ke sebuah minimarket. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berhasil melaporkan kejadian tersebut, yang kemudian memicu penangkapan massal terhadap Martina dan komplotannya.
Dalam persidangan yang emosional, Martina sempat mencoba mengetuk hati hakim dengan menceritakan masa kecilnya yang penuh kekerasan dan kurang kasih sayang. Namun, pembelaan tersebut tidak menggoyahkan nurani Hakim Lori Olender. Dengan tegas, hakim menyatakan bahwa trauma masa lalu bukanlah pembenaran untuk melahirkan kekerasan sadis baru kepada orang lain.
“Kasus ini benar-benar membuat pengadilan muak,” ujar Hakim Lori Olender saat membacakan vonis, sebagaimana dilaporkan oleh Page Six. Sementara itu, McCellan mengaku hidupnya kini dipenuhi bayang-bayang trauma dan mimpi buruk yang tak kunjung usai akibat kekejaman wanita yang pernah ia cintai tersebut.