Kilau Berdarah Koh-i-Noor: Rahasia di Balik Keengganan Ratu Camilla Memakai Berlian Paling Kontroversial di Dunia
Jumat, 01 Mei 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik kemegahan takhta Inggris, tersimpan sebuah permata yang tak hanya memancarkan cahaya, tetapi juga memicu bara perdebatan sejarah yang tak kunjung padam. Berlian Koh-i-Noor, batu mulia seberat 105,6 karat, kembali menjadi sorotan dunia seiring dengan peran baru Ratu Camilla dalam monarki modern.
Simbol Kemewahan yang Dibayangi Polemik
Koh-i-Noor bukanlah sekadar perhiasan biasa dalam koleksi Crown Jewels. Sejarah mencatat bahwa permata ini pernah menghiasi mahkota Ratu Elizabeth (ibu dari mendiang Ratu Elizabeth II) pada tahun 1937. Dengan balutan 2.800 berlian lainnya, Koh-i-Noor menjadi magnet utama yang diletakkan tepat di bagian depan mahkota tersebut. Namun, keindahan ini menyimpan beban moral yang berat.
Ketika Raja Charles III naik takhta, publik bertanya-tanya apakah Ratu Camilla akan mengenakan mahkota legendaris tersebut. Secara teknis, berlian itu telah diwariskan kepadanya. Namun, demi menghindari gesekan diplomatik dan sentimen negatif, Camilla memilih jalan aman dengan mengenakan Mahkota Ratu Mary yang telah dimodifikasi. Langkah ini secara tersirat menunjukkan betapa sensitifnya posisi Koh-i-Noor di mata dunia saat ini.
Jejak Paksaan di Balik “Hadiah” Sejarah
Narasi resmi dari pihak kerajaan Inggris sering kali menyebutkan bahwa berlian ini merupakan “hadiah” yang diberikan kepada Ratu Victoria pada tahun 1849. Akan tetapi, para sejarawan memiliki perspektif yang jauh berbeda. Kisah sebenarnya berakar pada masa Kekaisaran Mughal di India pada abad ke-15, di mana berlian ini pernah bertahta di singgasana legendaris milik Shah Jahan.
Titik balik yang paling memilukan terjadi pada pertengahan abad ke-19. Maharaja Duleep Singh, yang saat itu baru berusia 10 tahun, berada dalam posisi politik yang terdesak. Dalam kondisi yang dianggap tidak setara, ia dipaksa menandatangani dokumen yang menyerahkan berlian berharga tersebut kepada pihak Inggris. Sejarawan Anita Anand menegaskan bahwa dunia perlu mengetahui kebenaran di balik istilah “hadiah” tersebut, agar sejarah tidak dikubur oleh eufemisme diplomatik.
Tuntutan yang Tak Pernah Padam
Sejak meraih kemerdekaannya pada tahun 1947, India secara konsisten melayangkan tuntutan agar berlian kontroversial ini dikembalikan ke tanah asalnya. Tekanan ini tidak hanya datang dari pemerintah India, tetapi juga dari tokoh-tokoh internasional. Baru-baru ini, isu ini kembali mencuat melalui pernyataan Zohran Mamdani, seorang tokoh politik asal New York, yang menyarankan agar pihak kerajaan segera melakukan restitusi sejarah.
Bagi rakyat India, Koh-i-Noor adalah identitas yang dirampas pada masa kolonialisme. Hingga kini, permata yang kini tersimpan rapat di Tower of London itu tetap menjadi pengingat akan masa lalu yang kompleks. Apakah Koh-i-Noor akan tetap menjadi bagian dari sejarah Inggris, atau akhirnya kembali pulang? Debat ini tampaknya masih jauh dari kata usai.