Keunikan Kostum ‘Pempek Sepeda’ Ayu Sulistiani: Simbol Kebangkitan UMKM di Panggung Puteri Indonesia 2026
Minggu, 26 Apr 2026 07:35 WIB
Kabarmalam.com — Perhelatan akbar Puteri Indonesia 2026 kembali mencuri perhatian publik, bukan hanya karena pesona para kontestannya, tetapi juga melalui kreativitas busana yang ditampilkan. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah kehadiran Ayu Sulistiani, wakil dari Sumatera Selatan, yang tampil berani dengan kostum nasional bertajuk “Pempek Sepeda”.
Manifestasi Budaya dalam Balutan Fashion Nyentrik
Kostum ini seketika viral di jagat maya setelah Ayu melenggang dengan penuh percaya diri di Jakarta International Convention Center (JICC). Menggabungkan elemen kuliner legendaris dengan estetika panggung, busana ini bukan sekadar pakaian, melainkan narasi visual tentang kehidupan masyarakat Palembang. Keunikan tersebut mengantarkan Ayu meraih predikat bergengsi sebagai Top 3 Best Traditional Costume dalam ajang Puteri Indonesia 2026.
Dibalik tampilannya yang mencolok, terdapat misi mulia yang dibawa oleh Ayu. Melalui kostum rancangan @bfemanagement ini, ia ingin mengangkat martabat UMKM lokal agar lebih dikenal di kancah nasional maupun internasional. Visual etalase kaca berisi replika pempek, ban sepeda, hingga stang yang menyatu dengan busananya, menjadi representasi nyata dari kegigihan para pedagang kecil di daerah asalnya.
Filosofi dan Sejarah di Balik ‘Akuarium’ Berjalan
Sang desainer di balik karya fenomenal ini, Anthony Ferry—atau yang akrab disapa Bangfe—mengungkapkan bahwa konsep ini lahir dari keinginan untuk menghidupkan kembali memori sejarah kuliner yang mulai terpinggirkan. Kepada tim Kabarmalam.com, ia menjelaskan bahwa pempek sepeda memiliki nilai historis yang dalam bagi warga Palembang.
“Kami ingin menonjolkan sisi autentik Palembang yang mungkin mulai terlupakan. Banyak orang tahu pempek dijual di toko besar, tapi sejarah aslinya adalah pedagang yang berkeliling menggunakan sepeda dengan kotak kaca ikonik atau yang biasa disebut pempek akuarium,” tutur Anthony. Menurutnya, ada cita rasa dan kenangan tersendiri dari cara berjualan tradisional tersebut yang tidak ditemukan di restoran modern.
Tantangan Teknis dan Dedikasi Sang Kreator
Proses pembuatan kostum ini tidaklah instan. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyempurnakan detail material agar tampak realistis namun tetap fungsional untuk dikenakan di atas panggung. Salah satu tantangan terberat adalah memastikan etalase kaca yang menempel di punggung Ayu tidak membebani gerakannya.
- Material Ringan: Desainer harus memutar otak mencari bahan yang tampak seperti kaca berat namun sebenarnya ringan agar kontestan tetap nyaman saat melakukan runway.
- Detail Autentik: Botol cuka yang diletakkan di atas kepala serta komponen sepeda asli diintegrasikan secara artistik.
- Kendala Waktu: Produksi sempat terhambat karena bertepatan dengan libur Lebaran, namun dedikasi tim memastikan karya ini rampung tepat waktu.
Menariknya, konsep ini sebenarnya telah dipersiapkan sejak tahun sebelumnya namun baru berjodoh dengan Ayu Sulistiani pada edisi 2026. Kolaborasi apik ini terbukti sukses memukau dewan juri dan penonton, membuktikan bahwa identitas lokal yang dikemas dengan kreativitas modern mampu berbicara banyak di panggung kelas dunia.
Keberhasilan Ayu meraih Top 3 Best Traditional Costume menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya Indonesia dan ekonomi kerakyatan adalah pesan yang kuat dan selalu relevan untuk disuarakan dalam setiap kompetisi kecantikan.