Tyra Banks Tabuh Genderang Perang Melawan Netflix: Tuduh Adanya Manipulasi Narasi dalam Dokumenter ANTM
Senin, 15 Jun 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia hiburan internasional kembali diguncang oleh perselisihan hukum antara sang ikon mode, Tyra Banks, dengan raksasa streaming Netflix. Supermodel berusia 52 tahun tersebut secara resmi melayangkan gugatan hukum terkait serial dokumenter terbaru berjudul ‘Reality Check: Inside America’s Next Top Model’. Tyra menuding pihak produksi telah sengaja membangun citra negatif dan narasi palsu yang merusak reputasi serta kesehatan mentalnya.
Dalam dokumen gugatan yang diajukan ke pengadilan, Tyra Banks mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia merasa dikhianati oleh tim produksi yang hanya menggunakan sekitar 16 menit cuplikan dari total sesi wawancara mendalam yang berlangsung selama tiga setengah jam. Menurut Tyra, potongan-potongan tersebut sengaja dipangkas dan disusun ulang di luar konteks aslinya untuk menciptakan drama yang tidak sesuai dengan fakta lapangan.
Niat Jujur yang Berujung Polemik
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari dokumen pengadilan yang diperoleh majalah People, Tyra awalnya menyetujui keterlibatannya dalam dokumenter tersebut dengan semangat transparansi. Ia ingin memberikan perspektif yang jujur kepada penggemar setianya mengenai perjalanan panjang America’s Next Top Model (ANTM), termasuk mengakui segala pencapaian maupun kekhilafan yang terjadi selama bertahun-tahun acara itu mengudara.
“Terdapat beberapa aspek dari program tersebut yang memang diakui sebagai tanggung jawab Ms. Banks, dan ia sangat ingin penonton mendengar penjelasan itu langsung dari mulutnya sendiri,” demikian bunyi petikan dalam dokumen hukum tersebut. Sayangnya, kejujuran Tyra justru diduga dimanfaatkan untuk kepentingan rating semata.
Manipulasi Editing dan Narasi Palsu
Salah satu poin keberatan utama dalam gugatan ini adalah bagaimana Netflix memasarkan serial tersebut sebagai karya jurnalistik yang faktual dan definitif. Sebagai pemirsa, publik tentu mengharapkan kebenaran, bukan sebuah skandal yang dikonstruksi lewat ruang penyuntingan. Tyra mengklaim bahwa bagian di mana ia menunjukkan tanggung jawab atas kontroversi masa lalu justru dihilangkan secara sengaja.
Efek dari penyuntingan selektif ini sangat fatal. Tyra digambarkan seolah-olah secara sadar membiarkan praktik pelecehan seksual terjadi di bawah pengawasannya, mengeksploitasi trauma para kontestan demi menaikkan angka rating, dan yang paling menyakitkan, ia dicitrakan tidak memiliki empati karena tidak mengingat kejadian tersebut saat diwawancarai.
Menelisik Kasus Shandi Sullivan di Italia
Pangkal persoalan ini salah satunya merujuk pada testimoni Shandi Sullivan, kontestan dari Siklus Kedua ANTM. Dalam dokumenter tersebut, Shandi kembali mengungkit insiden di Italia yang melibatkan seorang model pria. Ia menuduh produser ANTM membingkai kejadian yang ia rasakan sebagai pelecehan menjadi sebuah narasi perselingkuhan yang sensasional.
Tyra Banks menegaskan dalam gugatannya bahwa pada saat kejadian itu berlangsung di tahun 2004, ia sama sekali tidak mengetahui jika Shandi merasa menjadi korban pelecehan. Lebih jauh, Tyra mengklarifikasi bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam proses teknis penyuntingan atau produksi harian yang menentukan alur cerita (storyline) pada masa itu.
Kini, Tyra Banks menuntut ganti rugi atas kerugian imateriel yang dialaminya. Baginya, apa yang disiarkan oleh Netflix kepada jutaan penonton di seluruh dunia bukanlah sebuah sejarah yang akurat, melainkan fiksi yang dibungkus dalam label dokumenter serius.