Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Sewa Tas Hermes Birkin Rp 14 Juta: Antara Akses Kemewahan dan Budaya Flexing yang Kian Masif

Jurnal | kabarmalam.com
Senin, 01 Jun 2026 21:34 WIB
Fenomena Sewa Tas Hermes Birkin Rp 14 Juta: Antara Akses Kemewahan dan Budaya Flexing yang Kian Masif

Kabarmalam.com — Selama puluhan tahun, memiliki sebuah tas Hermes Birkin bukan sekadar urusan finansial, melainkan simbol pencapaian status sosial yang sangat eksklusif. Namun, paradigma ini mulai bergeser seiring menjamurnya budaya pamer atau flexing di jagat maya. Kini, kemewahan yang dulu sulit digapai itu bisa dinikmati melalui sistem sewa, meski biaya yang harus dikeluarkan tetap tergolong fantastis bagi khalayak umum.

Salah satu pemain utama dalam bisnis ini adalah Vivrelle, sebuah platform penyewaan barang mewah asal New York. Melalui layanan mereka, siapa pun kini bisa menjinjing tas Hermes tipe Birkin hanya dengan membayar biaya langganan bulanan sebesar US$ 800 atau setara dengan Rp 14 juta. Langkah ini diambil oleh sang pendiri, Blake dan Wayne Geffen, dengan alasan memberikan aksesibilitas yang lebih luas terhadap dunia fashion kelas atas.

Baca Juga  Cara Memegang HP Ternyata Bisa Ungkap Kepribadian Tersembunyi, Anda Termasuk yang Mana?

Menurut manajemen Vivrelle, pergeseran tren dari ‘kepemilikan’ menuju ‘akses’ telah mengubah cara pandang generasi modern terhadap industri fashion mewah. Alih-alih mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk membeli satu tas, banyak orang kini lebih memilih untuk mengganti koleksi mereka setiap bulan melalui sistem sewa.

Logika di Balik Harga Sewa Fantastis

Meski terlihat memberikan kemudahan, tren ini memicu perdebatan sengit di kalangan pemerhati mode. Jika dikalkulasikan, seorang penyewa bisa menghabiskan lebih dari Rp 160 juta dalam setahun hanya untuk biaya sewa. Angka ini setara dengan harga beli satu unit kendaraan atau bahkan cukup untuk membeli tas Hermes Kelly versi vintage.

Sana Roychowdhury, seorang kolektor ternama Hermes vintage yang berbasis di New York, secara terbuka mempertanyakan logika ekonomi di balik fenomena ini. Menurutnya, menginvestasikan uang sebanyak itu hanya untuk meminjam barang adalah langkah yang kurang bijak, terutama jika dibandingkan dengan nilai investasi jangka panjang dari memiliki tas tersebut secara pribadi.

Baca Juga  Akses Kemewahan Tanpa Batas: Kini Tas Hermes Birkin Bisa Disewa Seharga Rp 12,5 Juta

Kritik Terhadap Pudarnya Nilai Eksklusivitas

Di media sosial, gelombang kritik pun bermunculan. Banyak pihak menilai bahwa kemudahan menyewa Birkin justru menggerus nilai prestise yang selama ini dijaga ketat oleh rumah mode asal Prancis tersebut. Birkin yang dulunya merupakan representasi dari quiet luxury, kini dianggap telah menjadi alat bagi para influencer untuk membangun citra kekayaan palsu.

“Saya tidak memahami daya tariknya. Mungkin ini memang dirancang untuk mereka yang haus validasi di media sosial. Bagi saya, tas adalah sesuatu untuk dicintai dan dijaga, bukan sekadar simbol status yang dipinjam untuk acara tertentu,” tulis salah satu netizen dalam sebuah diskusi hangat di forum Reddit.

Baca Juga  Ramalan Zodiak 26 April: Libra Saatnya Menyusun Strategi, Scorpio Nikmati Arus Keberuntungan

Publikasi mode terkemuka, WWD, bahkan sempat merilis ulasan yang mempertanyakan apakah pengaruh influencer telah membuat Birkin menjadi terlalu mainstream. Tas yang dulunya hanya dimiliki oleh segelintir kaum elite melalui daftar tunggu yang panjang, kini bertransformasi menjadi komoditas yang dipamerkan secara terang-terangan demi konten digital, kehilangan aura misterius dan eksklusivitas yang selama ini melekat padanya.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com