Reaksi Menohok Olivia Rodrigo Terhadap Kritik Gaun Babydoll: ‘Ini Sangat Mengganggu’
Jumat, 29 Mei 2026 11:34 WIB
Kabarmalam.com — Bintang pop sensasional, Olivia Rodrigo, akhirnya angkat bicara mengenai gelombang kritik yang menerpa pilihan busananya belakangan ini. Penyanyi berusia 23 tahun tersebut secara tegas memberikan respons terhadap kontroversi gaun babydoll yang sempat memicu perdebatan sengit di berbagai platform media sosial.
Dalam sebuah wawancara eksklusif di program Popcast milik The New York Times, pelantun hits ‘good 4 u’ ini mengungkapkan bahwa reaksi publik terhadap gaya berpakaiannya bukan hanya berlebihan, melainkan juga sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Menurut Olivia, orang-orang yang melihat busananya sebagai sesuatu yang memiliki konotasi seksual justru mencerminkan masalah pada cara pandang mereka sendiri.
“Saya sama sekali tidak merasa terlihat seksi dengan busana itu. Justru sebaliknya, saya merasa tampil sangat keren. Inspirasi saya adalah sosok-sosok ikonik seperti Kathleen Hanna atau Courtney Love, mereka adalah pahlawan musik saya,” ujar Olivia sebagaimana dikutip dari laporan Page Six.
Sentuhan Estetika Era 90-an yang Disalahartikan
Untuk proyek album terbarunya, Olivia memang tampak sengaja mengeksplorasi estetika musisi wanita era 90-an. Gaya ini identik dengan perpaduan kontras antara gaun babydoll yang manis dengan sepatu combat boots yang garang. Namun, niat artistik ini justru ditanggapi dingin oleh sebagian netizen.
Kritik pedas mulai bermunculan setelah Olivia merilis video musik ‘Drop Dead’ dengan mengenakan gaun biru muda berenda koleksi Chloé yang dilengkapi dengan bloomers. Tak berhenti di situ, penampilannya dalam konser Spotify Billions Club Live di Barcelona dengan atasan floral dari Génération78 yang dimodifikasi menjadi mini dress juga tak luput dari sorotan tajam.
Di platform X (sebelumnya Twitter), sejumlah pengguna melontarkan tuduhan ekstrem dengan menyebut penampilannya sebagai ‘pedo bait’. Bahkan, ada yang secara liar mengaitkan pilihan busana tersebut dengan kasus Epstein hingga novel kontroversial Lolita. Menanggapi hal ini, Olivia memberikan pernyataan yang menohok.
“Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya kita saat ini sudah terlalu menormalisasi pedofilia hingga pada titik yang benar-benar mengganggu,” tegasnya dengan nada bicara yang serius.
Soroti Standar Ganda dalam Fashion Panggung
Lebih lanjut, Olivia Rodrigo juga menyoroti adanya standar ganda yang sering dialami oleh perempuan dalam industri hiburan, khususnya terkait kostum panggung. Ia merasa heran mengapa busana yang lebih tertutup justru mendapatkan reaksi yang lebih negatif dibandingkan busana yang lebih terbuka.
“Saya pernah tampil di atas panggung hanya menggunakan bra berpayet dan celana yang sangat pendek. Saat itu saya merasa nyaman dan kuat, dan publik menganggapnya biasa saja,” ungkapnya. Namun, ia merasa ironis ketika gaun babydoll yang secara fisik lebih menutupi tubuh justru dianggap bermasalah karena kesan ‘kekanak-kanakan’ yang dilekatkan oleh publik.
Kekecewaan Olivia ini menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana batasan antara ekspresi seni dan persepsi publik sering kali berbenturan di era digital saat ini. Bagi Olivia, fashion adalah tentang kenyamanan dan penghormatan terhadap para idolanya, bukan untuk memenuhi fantasi atau penilaian keliru dari pihak luar.