Strategi Brand Lokal Melawan Biaya Marketplace: Locapop Hadirkan Bazar Diskon 75 Persen di AEON Tanjung Barat
Rabu, 27 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Jakarta Selatan kembali bergetar dengan gempita belanja produk lokal. Di tengah gempuran biaya operasional digital yang kian mencekik, para pelaku industri kreatif dalam negeri kini mulai memutar kemudi kembali ke pasar fisik. Fenomena ini terlihat jelas dalam perhelatan Locapop yang berlangsung meriah di AEON Mall Tanjung Barat sejak 26 hingga 31 Mei 2026.
Kembalinya Gairah Belanja Offline di Rooftop Jakarta
Bukan sekadar ajang jual beli biasa, gelaran kali ini mengusung tajuk “Locapop Rooftop Social Club”. Menggandeng Culinary Market Week, pengunjung tidak hanya disuguhi deretan brand lokal pilihan, tetapi juga pengalaman gaya hidup yang lengkap. Sebanyak 65 tenant dari berbagai kategori fashion, mulai dari hijab, aksesori, hingga lini wewangian, turut memadati area bazar.
Eras Pragitha, Head Creative Locapop, menjelaskan bahwa konsep kali ini dirancang agar pengunjung bisa menikmati suasana matahari terbenam (sunset) di rooftop sambil berburu koleksi terbaru. “Kami ingin menciptakan suasana di mana belanja menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sembari memilah busana, pengunjung bisa menikmati kuliner kekinian yang tersedia,” ujar Eras saat ditemui tim redaksi di lokasi acara.
Dilema E-commerce: Ketika Biaya Admin Menghimpit Margin
Di balik kemeriahan potongan harga hingga 75 persen, terselip cerita tentang perjuangan usaha kecil dan menengah untuk bertahan hidup. Strategi banting harga di ranah offline ini diakui Eras sebagai respons terhadap kondisi pasar digital yang semakin tidak menentu. Kenaikan biaya admin serta kebijakan komisi yang terus meroket di platform marketplace menjadi keluhan utama para pemilik brand.
Menurut Eras, banyak pengusaha yang terpaksa menghitung ulang Harga Pokok Penjualan (HPP) mereka secara drastis. Kebocoran biaya akibat sistem pengembalian barang (retur) hingga kenaikan admin fee membuat keuntungan bersih (profit margin) yang semula bisa mencapai 30 persen, kini merosot tajam hingga hanya tersisa 10 persen saja.
“Angka potongannya sangat fantastis, bagi beberapa brand besar nilainya bahkan setara dengan harga satu unit mobil. Kondisi ini sangat berat karena mereka juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar,” tambah Eras menjelaskan urgensi perpindahan fokus ke bazar fashion offline.
Alternatif Fixed Cost dan Kampanye Direct-to-Consumer
Mengikuti bazar fisik seperti Locapop menjadi angin segar karena struktur biayanya yang lebih terukur (fixed cost). Selain itu, momentum ini dimanfaatkan brand lokal untuk mengedukasi pelanggan agar kembali bertransaksi langsung melalui situs resmi atau layanan WhatsApp. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menjaga loyalitas konsumen sekaligus menyelamatkan ekosistem bisnis lokal dari ketergantungan platform pihak ketiga.
Surga Promo: Dari Busana Muslim Hingga Aksesori Premium
Bagi para pemburu diskon dan penyedia jasa titip (jastip), Locapop menjadi tambang emas yang tak boleh dilewatkan. Berbagai penawaran menarik tersaji rapi di setiap sudut booth, antara lain:
- Omyca: Menawarkan koleksi one set celana mulai dari Rp125.000 dan mukena cantik seharga Rp130.000.
- Lozy Hijab: Menarik perhatian dengan paket bundling hijab seharga Rp100.000 untuk 3 hingga 5 buah, serta koleksi abaya mulai dari Rp199.000.
- Giyomi & TGIF Project: Memberikan opsi paket hemat mulai dari Rp150.000 untuk dua helai pakaian.
- Gamaleea: Merilis koleksi best seller mereka dengan harga spesial Rp150.000.
- PVN: Menjadi primadona bagi pencinta sepatu dengan promo serba Rp150.000 dan sesi flash sale gila-gilaan hanya Rp50.000.
Tidak hanya pakaian, sektor aksesori juga diramaikan oleh Hey Lalaluna dengan bros kristal premium dan This is Lubi yang menawarkan strap phone serta cincin dengan harga terjangkau. Bagi yang mencari alas kaki, Tarompah menyajikan sandal teplek hingga heels dengan rentang harga Rp149.000 hingga Rp199.000.
Dengan antusiasme yang tinggi sejak hari pertama, Locapop membuktikan bahwa pasar fisik masih memiliki magnet kuat. Kehadiran ribuan pengunjung tanpa dipungut biaya masuk ini menjadi bukti bahwa produk lokal tetap menjadi raja di hati masyarakat Indonesia, selama diberikan ruang dan strategi pemasaran yang tepat.