Kemilau Budaya di Cannes 2026: Bedah Eksklusif Gaun ‘Oyster’ Raline Shah Karya Sapto Djojokartiko
Sabtu, 23 Mei 2026 10:05 WIB
Kabarmalam.com — Panggung megah karpet merah Cannes Film Festival 2026 kembali menjadi saksi bisu keanggunan talenta Indonesia. Kali ini, sorotan lampu kamera tertuju tajam pada sosok Raline Shah saat menghadiri premier film ‘El Ser Querido (The Beloved)’. Bukan sekadar penampilan biasa, bintang film kenamaan yang bernaung di bawah Artist International Group ini tampil memukau dalam balutan gaun yang memancarkan aura ‘Old Hollywood Glam’ namun tetap kental dengan identitas nusantara.
Gaun tersebut merupakan buah karya sang maestro mode asal Solo, Sapto Djojokartiko. Kolaborasi keduanya seolah telah menjadi tradisi di ajang festival film paling bergengsi di dunia tersebut. Jika pada tahun 2024 Raline tampil memikat dengan siluet kebaya tradisional, kali ini Sapto menyuguhkan sesuatu yang lebih modern namun tetap membawa napas warisan budaya Indonesia yang subtil.
Sentuhan Magis Motif Yayi Ukir
Berbeda dengan koleksi sebelumnya, gaun yang dikenakan Raline kali ini mengusung siluet mermaid yang menonjolkan lekuk tubuh dengan elegan. Namun, daya tarik utamanya terletak pada detail bordir motif #SAPTOJOPattern Yayi Ukir yang menyelimuti seluruh permukaan busana. Motif ini bukan sekadar hiasan; ia adalah hasil reinterpretasi artistik dari perpaduan ukiran tradisional dan tekstur tenun yang dipadukan dengan motif khas Sapto, yakni Penara.
Hasilnya adalah sebuah tekstur yang kaya akan detail, namun tetap terasa halus dan tidak mendominasi secara berlebihan. Sapto menjelaskan bahwa desain ini dirancang sedemikian rupa agar selaras dengan perhiasan mewah dari Chopard yang dikenakan Raline, menciptakan harmoni bernuansa art-deco yang dimensional.
Dedikasi 800 Jam Kerja Tanpa Cela
Menciptakan sebuah masterpiece untuk panggung internasional tentu bukan perkara mudah. Meski pengerjaannya tidak selama kebaya fenomenal tahun 2024 yang memakan waktu 1.200 jam, gaun ‘Oyster’ ini tetap menuntut dedikasi tinggi dengan total pengerjaan mencapai 800 jam. Fokus utamanya adalah pada konstruksi ballgown, khususnya bagian bow atau pita besar yang menjadi pernyataan mode utama.
“Tantangan terbesarnya ada pada keseimbangan antara struktur dan kelembutan gerak. Kami ingin bagian pita tersebut tetap terlihat kokoh dan sculptural, namun tetap terasa ringan dan natural saat Raline melangkah,” ungkap sang desainer. Ketelitian ini memastikan setiap pergerakan Raline di atas karpet merah terlihat mengalir tanpa beban.
Filosofi Warna ‘Oyster’ yang Timeless
Satu hal yang menarik perhatian adalah konsistensi pemilihan palet warna. Warna Oyster kembali menjadi pilihan utama, sebuah warna yang kini telah menjadi signature dari Sapto Djojokartiko. Warna ini dipilih karena karakternya yang understated namun mampu memancarkan kemewahan yang tenang.
Bagi Raline, warna ini merepresentasikan sisi klasik dan anggun dari kepribadiannya. Di bawah sorotan lampu red carpet, palet Oyster memberikan ruang bagi detail craftsmanship, tekstur bordir, dan siluet gaun untuk tampil lebih hidup tanpa harus terlihat berlebihan. Inilah bukti nyata bahwa warisan budaya Indonesia mampu bertransformasi menjadi bahasa mode global yang modern dan sangat relevan.