Rahasia Pasangan Muda Sukses Besarkan 7 Anak, Habiskan Rp 44 Juta Per Bulan!
Jumat, 22 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Membesarkan satu atau dua anak di era modern tentu bukan perkara mudah, apalagi jika jumlahnya mencapai tujuh orang dengan rentang usia yang sangat beragam. Inilah kisah inspiratif dari pasangan asal Johor, Malaysia, Ye Kaijie (39) dan He Yiling (38). Meski belum genap berusia 40 tahun, mereka telah berhasil menahkodai sebuah rumah tangga besar yang penuh warna dan disiplin.
Pasangan yang mengelola sebuah taman kanak-kanak ini mendadak menjadi perbincangan hangat setelah berbagi pengalaman unik mereka dalam mengelola keluarga besar. Menikah lebih dari dua dekade lalu, takdir membawa mereka ke dalam ikatan rumah tangga secara cepat. Hanya tiga bulan setelah berpacaran, mereka harus melangsungkan pernikahan dalam waktu 100 hari demi mematuhi tradisi keluarga setelah kepergian para tetua mereka.
Filosofi Pengasuhan Tanpa Kekerasan
Banyak orang membayangkan rumah dengan tujuh anak akan terasa sangat gaduh dan sulit dikendalikan. Namun, bagi Kaijie dan Yiling, kuncinya terletak pada pengasuhan anak yang berbasis pada keteladanan. Sebagai praktisi pendidikan, mereka tegas meninggalkan metode kuno seperti memarahi atau memukul.
“Kami percaya bahwa orang tua adalah cermin utama bagi anak-anak. Apa yang mereka lihat dari perilaku kami, itulah yang akan mereka contoh,” ungkap pasangan ini. Mereka mengedepankan kesabaran dan komunikasi dua arah untuk membentuk karakter putra-putri mereka yang kini berusia mulai dari 4 hingga 21 tahun.
Disiplin Ketat di Era Digital
Di tengah gempuran teknologi, Kaijie dan Yiling memiliki aturan yang sangat tegas mengenai penggunaan gawai. Anak-anak mereka baru diperbolehkan memiliki ponsel pribadi saat menginjak usia 10 tahun, itu pun terbatas untuk kebutuhan sekolah dan kelas daring. Hal ini dilakukan untuk mendorong interaksi sosial yang lebih hangat di dalam rumah.
Tak hanya itu, rutinitas harian diatur dengan jadwal yang presisi. Mulai dari waktu makan, mandi, hingga jam tidur, semuanya memiliki ketetapan. Jika ada yang melanggar, mereka harus belajar bertanggung jawab atas konsekuensinya sendiri, seperti menghadapi risiko terlambat ke sekolah. Pola ini secara tidak langsung menanamkan kemandirian sejak dini kepada anak-anak mereka.
Manajemen Keuangan dan Rezeki yang Mengalir
Berbicara mengenai operasional rumah tangga, Kaijie tidak menampik bahwa biaya yang dikeluarkan cukup besar. Setiap bulannya, mereka mengalokasikan sekitar RM 10.000 atau setara dengan Rp 44 juta hanya untuk kebutuhan dasar ketujuh anaknya. Biaya ini mencakup kebutuhan pendidikan, mengingat dua anak tertua mereka kini tengah menempuh studi di universitas bergengsi, yakni Universitas Malaya dan Universitas Sains Malaysia.
Menariknya, Kaijie justru merasa bahwa setiap kehadiran anak baru membawa berkah tersendiri bagi ekonomi keluarga. “Setiap kali ada anggota keluarga baru lahir, pendapatan kami entah bagaimana selalu meningkat. Rasanya seperti Tuhan sedang menjaga kami,” selorohnya. Meski begitu, mereka tetap menanamkan literasi keuangan sejak dini kepada anak-anaknya agar mahir mengelola tabungan dan pengeluaran pribadi.
Membangun Empati Lewat Pelayanan Masyarakat
Selain pendidikan formal, pasangan ini juga aktif mengajak anak-anak mereka terjun langsung dalam kegiatan sosial. Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, keluarga besar ini rutin mengunjungi panti jompo dan panti asuhan untuk berbagi bantuan pokok. Tak hanya itu, mereka juga menjunjung tinggi nilai keberagaman di Malaysia dengan merayakan Hari Raya bersama teman-teman dari etnis Melayu.
Bagi Kaijie dan Yiling, meskipun tanggung jawab yang diemban sangat besar dan melelahkan, kehadiran anak-anak adalah obat dari segala penat. “Anak-anak adalah pilar emosional kami. Seberapa lelah pun kami bekerja, begitu sampai di rumah dan melihat wajah mereka, rasa lelah itu seketika sirna,” tutup mereka dengan penuh haru.