Sentuhan Emas Matthieu Blazy: Rahasia Chanel Cetak Pendapatan Rp 335 Triliun
Kamis, 21 Mei 2026 14:04 WIB
Kabarmalam.com — Industri mode global tengah menyoroti kebangkitan fenomenal Chanel. Setelah sempat mengalami masa transisi yang penuh tanda tanya, rumah mode legendaris asal Prancis ini berhasil membuktikan bahwa pergantian kepemimpinan kreatif di tangan Matthieu Blazy bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan langkah jitu yang menghasilkan pundi-pundi keuntungan luar biasa.
Pada laporan keuangan terbaru yang dirilis Selasa (19/5/2026), Chanel mencatatkan lonjakan keuntungan sebesar 2 persen dengan total pendapatan mencapai US$ 19,3 miliar atau setara dengan Rp 335 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menjadi angin segar setelah sebelumnya perusahaan sempat mengalami kontraksi pendapatan sebesar 4,3 persen. Keberhasilan ini seolah menjawab keraguan publik pasca hengkangnya Virginie Viard pada Juni 2024 lalu.
Era Baru di Bawah Komando Matthieu Blazy
Penunjukan Matthieu Blazy sebagai Direktur Kreatif pada Desember 2024 sempat disebut-sebut sebagai the hottest job in fashion. Blazy memikul beban berat untuk menjaga warisan Gabrielle ‘Coco’ Chanel sekaligus menyuntikkan relevansi modern seperti yang pernah dilakukan mendiang Karl Lagerfeld. Namun, penantian para pecinta fashion terbayar tuntas saat koleksi perdananya melantai di Paris Fashion Week Spring 2026 pada September tahun lalu.
Koleksi tersebut menuai pujian luas dari para kritikus. Blazy dinilai sangat piawai menerjemahkan DNA Chanel ke dalam bahasa desain yang lebih organik dan kekinian. Dampaknya pun instan; begitu koleksi tersebut tersedia di butik pada awal tahun ini, antrean panjang calon pembeli langsung mengular di berbagai kota besar dunia.
Produk Ikonik yang Menjadi Rebutan
Strategi produk Blazy memang tergolong berani. Salah satu yang paling diburu adalah flapbag kulit dengan siluet slouchy yang santai tanpa pola quilted khas Chanel, yang dibanderol seharga US$ 8.500 atau sekitar Rp 150 juta. Selain itu, jaket tweed dengan potongan boxy crop serta sepatu dual tone dengan ujung kotak menjadi item yang paling cepat ludes dari rak pajangan.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Le 19M Paris, pusat para artisan dan perajin tekstil yang menjadi jantung kualitas setiap produk koleksi haute couture dan ready-to-wear Chanel. Sentuhan tangan para ahli inilah yang memastikan setiap karya Blazy tetap memiliki nilai eksklusivitas tinggi di mata kolektor.
Ekspansi Pasar dan Inklusivitas Global
Menariknya, di bawah arahan Blazy, Chanel mulai melirik pasar yang lebih luas dengan menyasar segmen pria. Dengan menggandeng ikon dunia seperti rapper A$AP Rocky dan aktor Pedro Pascal sebagai brand ambassador, Chanel berhasil memanfaatkan tren pakaian genderless yang tengah menjamur di industri fashion global.
Langkah ini terbukti ampuh menarik klien-klien baru yang sebelumnya tidak pernah melirik Chanel. Simon Longland, Direktur Fashion Buying di Harrods London, menyebut fenomena masuknya konsumen baru ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Tak hanya dari sisi bisnis, Chanel juga menunjukkan komitmen pada keberagaman budaya dengan menampilkan model India pertama, Bhavitha Mandava, sebagai pembuka peragaan busana mereka, serta model Sudan Awar Odhiang sebagai penutup.
Kombinasi antara visi kreatif yang segar, kualitas kerajinan tangan yang tak tertandingi, serta strategi pemasaran yang inklusif telah mengukuhkan posisi Chanel sebagai merek paling dicari di awal tahun 2026. Dengan momentum yang terus terjaga, para analis memprediksi pertumbuhan bisnis rumah mode ini akan terus meroket di masa mendatang.