Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal Tren High Skull: Obsesi Kecantikan ‘Kepala Tinggi’ yang Menuai Kontroversi Medis

Jurnal | kabarmalam.com
Jumat, 15 Mei 2026 18:34 WIB
Mengenal Tren High Skull: Obsesi Kecantikan 'Kepala Tinggi' yang Menuai Kontroversi Medis

Kabarmalam.com — Dunia estetika global seolah tidak pernah berhenti melahirkan standar kecantikan yang unik dan terkadang di luar nalar. Belakangan ini, jagat media sosial di China tengah dihebohkan oleh tren kecantikan yang disebut sebagai High Skull. Fenomena ini mengacu pada bentuk kepala dengan bagian puncak tengkorak yang lebih tinggi dan panjang, yang diklaim mampu memberikan ilusi wajah yang lebih mungil dan proporsional.

Apa Itu Tren High Skull?

Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar asing. Namun di Negeri Tirai Bambu, tren kecantikan ini menjadi standar baru bagi mereka yang mendambakan tampilan wajah yang lembut dan awet muda. Mengutip data dari berbagai sumber, konsep dasar high skull terletak pada perbandingan jarak: jika jarak dari garis rambut ke puncak kepala lebih panjang daripada jarak antara alis ke garis rambut, maka seseorang dianggap memiliki bentuk kepala yang ideal.

Baca Juga  Billie Eilish Tegaskan Tolak Operasi Plastik: Ingin Menua Alami Demi Mirip Sang Anak di Masa Depan

Bentuk kepala seperti ini dipercaya mampu membingkai wajah dengan lebih sempurna, sehingga fitur wajah terlihat lebih kecil dan seimbang sesuai dengan preferensi estetika modern yang sedang populer saat ini.

Dari Aksesori Rambut Hingga ‘Semen Tulang’

Awalnya, banyak orang mencoba mengikuti tren ini dengan cara-cara sederhana dan non-invasif. Industri kecantikan pun merespons cepat dengan meluncurkan berbagai produk inovatif, mulai dari jepit rambut penambah volume, penggunaan hairspray khusus, hingga teknik tata rambut tertentu untuk menciptakan efek visual kepala yang lebih jenjang.

Namun, obsesi terhadap kesempurnaan membuat beberapa individu beralih ke metode yang lebih ekstrem dan bersifat permanen. Salah satu prosedur yang kini banyak dibicarakan adalah prosedur kecantikan invasif seperti penyuntikan asam hialuronat atau hyaluronic acid langsung ke bawah jaringan kulit kepala.

Baca Juga  Tragedi iPhone 17 Pro Max Dijambret: Tangis Ragil Pecah Usai Paylater dan Akun Pencari Nafkah Dikuras Habis

Tak berhenti di situ, beberapa orang bahkan nekat menjalani operasi cranial augmentation atau pembentukan tengkorak menggunakan implan plastik hingga material medis yang disebut ‘semen tulang’ atau Polymethyl Methacrylate (PMMA). Material ini sebenarnya lazim digunakan dalam dunia ortopedi untuk memperbaiki struktur tulang yang rusak, namun kini dimanfaatkan demi estetika semata.

Risiko Medis yang Mengintai di Balik Keindahan

Meski menjanjikan hasil instan, transformasi ini membawa risiko kesehatan yang tidak main-main. Operasi pembentukan kepala biasanya melibatkan sayatan sepanjang 3 hingga 6 sentimeter pada kulit kepala untuk memasukkan bahan implan, termasuk teknologi cetak 3D berbahan PEEK yang disesuaikan dengan struktur tulang pasien.

Salah satu kekhawatiran terbesar muncul dari penggunaan suntikan cairan dalam jumlah besar. Risiko kesehatan yang dilaporkan oleh para pengguna media sosial di China mencakup kerontokan rambut yang parah hingga kebotakan permanen. Para ahli medis memperingatkan bahwa penumpukan jaringan (tissue crowding) akibat zat asing dapat menyumbat aliran darah ke folikel rambut, yang pada akhirnya mematikan pertumbuhan rambut di area tersebut.

Baca Juga  Sentuhan Kemewahan Italia di Jakarta: Tod's Resmi Membuka Butik Perdana yang Ikonik

Melalui fenomena high skull ini, kita diingatkan kembali bahwa mengejar standar kecantikan yang viral terkadang menuntut harga yang sangat mahal, baik secara finansial maupun kesehatan jangka panjang. Konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk melakukan perubahan radikal pada tubuh.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com