Ancaman ‘Bloedbad 400’: Sosok Ekstremis Sayap Kanan Targetkan Nyawa Putri Mahkota Belanda
Kamis, 07 Mei 2026 12:35 WIB
Kabarmalam.com — Bayang-bayang teror kini tengah menyelimuti keluarga kerajaan Belanda setelah terungkapnya sebuah rencana pembunuhan yang menyasar ahli waris takhta. Seorang pria yang diduga beraliran ekstremis sayap kanan kini harus berhadapan dengan meja hijau setelah kedapatan merencanakan serangan mengerikan terhadap Putri Mahkota Catharina-Amalia dan adiknya, Putri Alexia.
Pria bernama Anne Romke van der H. (33) diamankan pihak kepolisian di sebuah hotel di Den Haag pada Februari lalu. Penangkapan ini bermula dari kecurigaan aparat yang kemudian berujung pada penemuan barang bukti yang mencengangkan: dua buah kapak yang disembunyikan di dalam kamar hotelnya. Dalam persidangan perdana yang digelar baru-baru ini, terungkap bahwa tersangka memiliki obsesi yang tidak wajar terhadap Putri Catharina-Amalia.
Delusi ‘Misi Rahasia’ dan Klaim Kekasih Sang Putri
Fakta yang muncul di persidangan memperlihatkan profil tersangka yang sangat mengkhawatirkan. Dengan penuh keyakinan, Van der H. mengklaim dirinya sebagai kekasih dari calon Ratu Belanda tersebut. Ia berdalih bahwa dua kapak yang ia bawa bukan untuk aksi kejahatan, melainkan pesanan langsung dari Putri Amalia sebagai perlengkapan bertahan hidup untuk sebuah ‘misi pelatihan’ di Polandia.
Pengacaranya menyatakan bahwa kliennya hanya melakukan apa yang ia yakini sebagai perintah dari sang putri. Namun, jaksa penuntut umum menepis klaim tersebut sebagai delusi berbahaya. Terlebih lagi, polisi menemukan detail yang mengerikan pada barang bukti tersebut. Di gagang kapak, ditemukan ukiran bertuliskan slogan-slogan kebencian seperti “Sieg Heil” serta kata “Mossad”. Tak hanya itu, nama Putri Alexia juga ditemukan terukir pada salah satu senjata tajam tersebut.
Misteri Catatan ‘Bloedbad 400’
Selain senjata, pihak berwenang juga menyita catatan tangan yang memperkuat dugaan rencana pembunuhan berencana. Dalam catatan itu, tertulis istilah “bloedbad 400” yang jika diterjemahkan dari bahasa Belanda berarti “pembantaian berdarah”. Tim pembela terdakwa mencoba berkilah bahwa istilah tersebut hanyalah nama sandi untuk simulasi latihan yang ada di dalam pikiran kliennya.
Pria asal Uithuizen ini diketahui bukan orang baru dalam radar pengawasan. Sebelum penangkapan ini, ia dilaporkan pernah terlihat berkeliaran di sekitar taman istana kerajaan. Rekam medisnya juga menunjukkan tanda-tanda gangguan mental yang serius, di mana ia pernah sesumbar kepada sebuah klinik kesehatan tahun lalu bahwa dirinya tidak memiliki rasa takut untuk melukai atau menusuk orang lain.
Evaluasi Psikiatri dan Keamanan Ketat
Mengingat profil risiko yang tinggi, hakim memutuskan agar Van der H. tetap berada dalam tahanan demi mencegah kemungkinan ia melarikan diri atau merealisasikan ancamannya. Kasus ini menambah panjang daftar ancaman keamanan yang dihadapi oleh keluarga kerajaan dalam beberapa tahun terakhir, yang memaksa protokol keamanan di sekitar Putri Amalia diperketat hingga ke level tertinggi.
Saat ini, terdakwa tengah menjalani evaluasi psikiatri komprehensif untuk menentukan apakah ia dapat dimintai pertanggungjawaban hukum secara penuh atau membutuhkan perawatan mental intensif. Investigasi lebih lanjut terus dilakukan untuk menggali apakah ada keterlibatan jaringan ekstremis sayap kanan lainnya dalam rencana yang mengancam stabilitas monarki Belanda tersebut.