Gemerlap dan Kontroversi MET Gala 2026: Antara Gaun Mewah Rp1,6 Miliar hingga Boikot Jeff Bezos
Selasa, 05 Mei 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Langit New York City kembali bersiap menjadi saksi bisu perhelatan fashion show paling prestisius di dunia. Senin pertama di bulan Mei selalu menjadi momen yang sakral bagi para pecinta mode, namun MET Gala 2026 kali ini hadir dengan nuansa yang sedikit berbeda. Di balik tirai kemewahan dan gaun-gaun adibusana, terselip narasi kontroversial yang memicu perbincangan hangat di berbagai belahan dunia.
Tahun ini, Metropolitan Museum of Art tidak hanya menyuguhkan parade selebritas, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang hubungan antara estetika dan sejarah. Berikut adalah rangkuman fakta mendalam di balik megahnya MET Gala 2026 yang berhasil dirangkum oleh tim redaksi kami.
1. Manifestasi Seni dalam Balutan Busana
Mengusung tema besar bertajuk “Costume Art”, pameran musim semi di Costume Institute kali ini akan menampilkan sekitar 200 objek seni legendaris yang disandingkan secara apik dengan 200 busana ikonik. Para tamu undangan ditantang untuk menerjemahkan dress code “Fashion is Art” ke dalam penampilan mereka di atas red carpet. Ini bukan sekadar memakai pakaian bagus, melainkan bagaimana tubuh manusia menjadi kanvas bagi karya seni yang bernapas.
2. Tradisi Senin Pertama di Bulan Mei
Sesuai dengan tradisi yang telah mengakar kuat, perhelatan ini akan digelar pada Senin malam, 4 Mei 2026 waktu setempat, atau Selasa pagi bagi masyarakat di Indonesia. Tanggal ini telah menjadi jadwal tetap bagi para elit global untuk berkumpul di tangga ikonik Metropolitan Museum of Art.
3. Lebih dari Sekadar Pesta: Misi Penggalangan Dana
Meskipun terlihat seperti pesta pora kaum elit, MET Gala sebenarnya adalah ajang penggalangan dana utama bagi Costume Institute. Departemen ini adalah satu-satunya bagian dari museum yang harus membiayai operasionalnya sendiri. Sebagai catatan, tahun lalu saja acara ini berhasil mengumpulkan donasi fantastis senilai lebih dari US$ 31 juta.
4. Kembalinya Sang Ratu: Beyoncé Sebagai Co-Chair
Setelah absen selama satu dekade, Beyoncé akhirnya kembali dan dipercaya menjadi salah satu co-chair. Ia tidak sendirian; ada deretan nama besar lainnya seperti aktris pemenang Oscar Nicole Kidman, legenda tenis Venus Williams, hingga sang editor-in-chief Vogue, Anna Wintour. Kehadiran wajah-wajah baru seperti Sabrina Carpenter dan Teyana Taylor diprediksi akan memberikan energi segar pada malam puncak tersebut.
5. Kontroversi Sponsor dan Bayang-Bayang Boikot
Nama pendiri Amazon, Jeff Bezos, dan Lauren Sánchez Bezos menjadi sorotan tajam setelah menyumbangkan dana sebesar US$ 10 juta sebagai sponsor utama. Namun, langkah dermawan ini justru memicu seruan boikot. Banyak pihak mengkritik Bezos yang dianggap menghamburkan uang demi citra sosial, sementara isu kesejahteraan karyawan di perusahaannya masih sering menjadi polemik.
6. Absensi Nama-Nama Besar
Meski bertabur bintang, beberapa ikon fashion dipastikan tidak akan melenggang tahun ini. Zendaya dan Meryl Streep dikabarkan absen dari daftar tamu. Tak hanya dari kalangan artis, tokoh politik seperti Wali Kota New York Zohran Mamdani juga memilih untuk tidak hadir, mengikuti jejak para politisi yang mulai menjaga jarak dari acara yang dianggap terlalu eksklusif ini.
7. Ekspansi Ruang Pameran yang Lebih Luas
Tahun 2026 menandai peresmian Conde M. Nast Galleries, sebuah ruang pameran baru seluas hampir 1.100 meter persegi. Fasilitas ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih imersif bagi pengunjung, sekaligus menghubungkan area pameran langsung ke lokasi makan malam megah di Temple of Dendur.
8. Merayakan Keberagaman Bentuk Tubuh
Salah satu terobosan paling progresif tahun ini adalah penggunaan manekin yang lebih inklusif. Kurator Andrew Bolton memastikan bahwa pameran ini menampilkan berbagai representasi tubuh, termasuk penyandang disabilitas dan orang bertubuh besar (plus-size). Sembilan dari 25 manekin baru bahkan dibuat berdasarkan hasil pemindaian tubuh nyata, termasuk tubuh aktivis Sinéad Burke.
9. Warisan Sejarah Sejak 1948
Berawal dari sebuah jamuan makan malam sederhana bagi kalangan elit Manhattan pada tahun 1948, MET Gala telah bertransformasi menjadi fenomena budaya pop global. Selama lebih dari tujuh dekade, acara ini tetap konsisten menjaga gengsinya sebagai malam paling bergengsi di industri lifestyle.
10. Harga Tiket yang Menguras Kantong
Eksklusivitas MET Gala tercermin dari harga tiketnya yang selangit. Untuk bisa masuk, seseorang harus merogoh kocek hingga US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar untuk satu kursi. Sementara itu, untuk menyewa satu meja berisi 10 orang, harga yang dipatok mulai dari US$ 350.000. Itupun dengan catatan, uang saja tidak cukup; Anda tetap harus mendapatkan restu langsung dari Anna Wintour untuk bisa masuk dalam daftar tamu.