Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sering Menunda Makan hingga Kelaparan? Waspadai Risiko ‘Kalap’ dan Gangguan Fokus Ini

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 07 Apr 2026 11:07 WIB
Sering Menunda Makan hingga Kelaparan? Waspadai Risiko 'Kalap' dan Gangguan Fokus Ini

Kabarmalam.com — Banyak dari kita seringkali mengabaikan alarm alami tubuh berupa rasa lapar karena alasan kesibukan atau pekerjaan yang menumpuk. Padahal, membiarkan perut kosong hingga mencapai titik kelaparan ekstrem bukan hanya soal menahan rasa tidak nyaman, melainkan ada risiko kesehatan dan perilaku makan yang tersembunyi di baliknya.

Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, praktisi kesehatan dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, menekankan pentingnya menerapkan konsep mindful eating. Makan di waktu yang tepat adalah kunci menjaga keseimbangan energi dan emosi seseorang. Ia menjelaskan bahwa siklus lapar dan kenyang manusia sebenarnya bisa dikategorikan ke dalam 10 tingkatan yang berbeda.

Mengenal Skala Lapar: Kapan Waktu Terbaik untuk Makan?

Menurut dr. Juwalita, Level 1 menggambarkan kondisi lapar ekstrem yang sangat menyiksa, sementara Level 10 adalah kondisi di mana perut sudah terlalu penuh hingga memicu rasa begah atau mual. Namun, banyak orang melakukan kesalahan dengan baru mulai mencari nutrisi saat mereka sudah menyentuh level paling bawah.

Baca Juga  Waspada Jebakan Kalori! Kenali Beda 'Per Sajian' dan 'Per Kemasan' di Label Gizi

“Sangat direkomendasikan bagi kita untuk mulai makan ketika berada di level tiga dan empat. Pada level empat, biasanya perut sudah mulai memberikan sinyal fisik seperti bunyi keroncongan,” ungkap dr. Juwalita.

Selain bunyi di perut, tubuh juga akan memberikan tanda-tanda lain saat membutuhkan asupan energi, di antaranya:

  • Rasa pusing atau pening di kepala.
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi atau fokus pada pekerjaan.
  • Mudah merasa terdistraksi oleh hal-hal kecil.

Risiko Makan Saat Terlalu Lapar

Menunda makan hingga mencapai level kritis (level 1 atau 2) sangatlah berbahaya. dr. Juwalita memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memicu reaksi tubuh yang tidak terkendali. “Bahayanya jika kita makan saat sudah terlalu lapar adalah kita bisa pingsan karena kekurangan energi. Namun sebelum itu terjadi, biasanya kita akan menjadi ‘kalap’ saat melihat makanan,” jelasnya.

Baca Juga  Ramadan 2026 Berubah Total! Shopee Ungkap Tren Belanja yang Bikin Kaget

Kondisi “kalap” ini merujuk pada perilaku makan berlebihan tanpa kontrol, yang justru merusak pola makan sehat yang sedang dibangun. Oleh karena itu, penting untuk segera mengisi perut saat sinyal lapar muncul dan segera berhenti sebelum merasa begah agar tubuh tetap nyaman.

Lapar Sungguhan vs Sekadar Craving

Satu hal yang sering membingungkan adalah membedakan antara rasa lapar biologis dengan keinginan makan sesaat atau craving. Memahami perbedaan ini sangat krusial dalam menjalani diet sehat.

dr. Juwalita memberikan tips sederhana untuk membedakannya. Jika seseorang benar-benar lapar, ia cenderung akan menerima jenis makanan apa pun yang ditawarkan. Sebaliknya, craving bersifat sangat spesifik. “Kalau craving, biasanya ingin makanan tertentu, misalnya martabak manis. Jika ditawari makanan lain, ia akan menolak karena hanya ingin target spesifik tersebut,” tambahnya.

Baca Juga  Dilema Karbohidrat: Benarkah Nasi Merah Lebih 'Sakti' untuk Diet Ketimbang Nasi Putih?

Dengan memahami sinyal tubuh dan menerapkan mindful eating, kita dapat terhindar dari kebiasaan makan berlebih dan menjaga kesehatan metabolisme dalam jangka panjang secara optimal.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid