IHSG Anjlok ke 7.097, Investor Was-was Perang AS-Iran Makin Memanas!
Sabtu, 28 Mar 2026 05:18 WIB
Kabarmalam.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Jumat sore. Melemahnya indeks ini dipicu oleh sentimen negatif dari ketidakpastian de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat para investor cenderung berhati-hati.
Pada penutupan hari ini, IHSG tercatat turun 67,03 poin atau 0,94 persen ke level 7.097,06. Tak hanya itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami koreksi cukup dalam sebesar 12,77 poin atau 1,75 persen ke posisi 718,96.
Skeptisisme Pasar Terhadap Perdamaian AS-Iran
Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa volatilitas pasar global meningkat tajam seiring dengan keraguan pasar terhadap negosiasi antara AS dan Iran. Meski Presiden Donald Trump menyatakan perang akan segera berakhir, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Iran dikabarkan telah menolak proposal gencatan senjata dari AS dan justru memberikan proposal balasan. Di sisi lain, AS malah berencana mengirimkan lebih banyak pasukan ke kawasan Timur Tengah. Situasi yang memasuki pekan keempat ini dikhawatirkan akan memicu inflasi global akibat kenaikan harga energi dan gangguan jalur perdagangan dunia, khususnya di Selat Hormuz.
Sektor Industri Babak Belur, Energi Bertahan
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor saham melemah. Sektor industri mengalami penurunan terdalam sebesar 1,20 persen, disusul oleh sektor infrastruktur dan teknologi. Namun, di tengah pelemahan ini, sektor energi dan kesehatan masih mampu menguat tipis masing-masing 0,34 persen dan 0,15 persen.
Frekuensi perdagangan hari ini tercatat sebanyak 1,39 juta kali transaksi dengan nilai mencapai Rp11,77 triliun. Sebanyak 379 saham tercatat menurun, sementara 274 saham berhasil menguat, dan 167 saham lainnya stagnan.
Kondisi pasar regional Asia juga terpantau beragam. Indeks Nikkei melemah tipis, sementara indeks Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times justru menunjukkan penguatan di tengah ketidakpastian global tersebut.