Tangis Idul Fitri di Aceh: Saat 700 Makam Hilang, Warga Berdoa di Pusara Tanpa Nama
Senin, 23 Mar 2026 14:12 WIB
Kabarmalam.com – Aceh — Pagi Idul Fitri yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi duka mendalam di Desa Agusen, Gayo Lues. Di tengah kabut tipis pegunungan, suara doa bergetar dari seorang pemuda bernama Tengku Riandi pecah, mengiringi ziarah yang tak lagi memiliki arah pasti.
Di hadapannya, tak ada nisan, tak ada nama. Hanya hamparan tanah merah yang membisu—menjadi tempat peristirahatan ratusan jenazah yang kini kehilangan identitas.
Empat bulan sebelumnya, bencana banjir bandang disertai longsor menghantam desa tersebut tanpa ampun. Air bah membawa lumpur, kayu, dan batu dari hulu sungai, menghancurkan permukiman sekaligus menyeret tiga kompleks pemakaman tua yang telah ada sejak masa kolonial. Sekitar 700 jenazah diperkirakan hanyut, menghapus jejak sejarah keluarga yang selama ini dijaga turun-temurun.
Tradisi ziarah yang menjadi bagian penting budaya masyarakat Gayo kini kehilangan makna fisiknya. Doa tetap dipanjatkan, tetapi tanpa kepastian di mana orang tercinta benar-benar bersemayam.
Di sudut lain, seorang perempuan bernama Seriah (55) hanya bisa bersimpuh di tanah yang sama. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia tak lagi tahu di mana ayahnya dimakamkan. Bahkan jasad adiknya, seorang hafiz Al-Quran yang dihormati di desa, kini hilang ditelan bencana.
“Sedihlah nak… tulang bapakku di sini,” ucapnya lirih, menggambarkan luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi warga Agusen, kehilangan rumah masih bisa diperbaiki. Namun kehilangan jejak kubur keluarga adalah kehilangan yang tak tergantikan. Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi simbol trauma dan misteri.
Pasca-bencana, warga berupaya mengumpulkan sisa-sisa jenazah yang ditemukan di antara lumpur dan reruntuhan. Tulang-belulang dan potongan kain kafan dikumpulkan, lalu dimakamkan kembali di lokasi darurat yang lebih tinggi. Itu menjadi bentuk penghormatan terakhir yang bisa mereka berikan.
Namun luka itu belum selesai.
Data pemerintah menunjukkan ratusan keluarga terdampak, dengan sebagian besar masih bertahan di hunian sementara. Kerugian mencapai triliunan rupiah, dan proses pemulihan terus berjalan.
Meski demikian, bagi warga, pemulihan fisik saja tidak cukup. Trauma kolektif yang mereka alami membutuhkan perhatian serius. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan akar sejarah, identitas, dan hubungan batin dengan orang-orang yang telah pergi.
Kini, di tanah tanpa nama itu, doa menjadi satu-satunya penanda. Sebuah ikhtiar untuk tetap terhubung dengan mereka yang tak lagi bisa ditemukan.