Wajah ‘Dicomot’ AI untuk Iklan Sensual, Model Francheska Pujols Gugat Brand Fashion Ternama
Selasa, 09 Jun 2026 08:36 WIB
Kabarmalam.com — Garis batas antara realitas dan rekayasa digital di industri mode kini semakin bias, memicu konflik hukum yang menjadi sorotan dunia. Di tengah kekhawatiran global mengenai kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggeser peran manusia, sebuah kasus besar pecah di New York, Amerika Serikat. Seorang model profesional memutuskan untuk membawa salah satu peritel mode besar ke meja hijau setelah merasa identitas visualnya ‘dicuri’ dan dikloning oleh teknologi tanpa izin.
Kloning Digital di Balik Pose Provokatif
Francheska Pujols, seorang model dan aktris berbakat kelahiran Republik Dominika, mengajukan gugatan terhadap brand pakaian Rainbow USA ke Mahkamah Agung New York. Masalah bermula ketika Pujols menemukan wajah dan kemiripan fisiknya digunakan dalam rangkaian kampanye iklan yang tidak pernah ia lakukan secara langsung. Dalam dokumen hukum yang diajukan, ia menuduh perusahaan telah mengganti eksistensi fisiknya dengan versi AI yang ditempatkan dalam berbagai pose sensual.
Padahal, saat sesi pemotretan resmi berlangsung pada September 2024, Pujols berpose dengan gaya yang sangat berbeda. Ia tampil elegan, minimalis, dan profesional dengan ekspresi netral sesuai dengan citra industri fashion premium yang selama ini ia bangun. Namun, hasil akhir yang dirilis ke publik justru menampilkan sosok digital dirinya dalam balutan busana yang lebih terbuka dan suasana yang dinilai provokatif.
Manipulasi Visual yang Merusak Reputasi
Pujols merinci beberapa materi iklan yang dianggap sangat merugikan. Salah satunya menampilkan sosok AI yang sangat mirip dengannya, mengenakan crop top bermotif leopard, tengah berbaring di pangkuan wanita lain sambil memegang minuman koktail. Di gambar lain, versi digital tersebut terlihat duduk di bar dengan rok mini denim dalam posisi yang dianggapnya terlalu sensual.
Sebagai model yang pernah menghiasi panggung New York Swim Week dan sampul majalah Vigour Kanada, Pujols merasa tindakan ini mencoreng reputasi profesionalnya. Teknologi AI tersebut diduga digunakan untuk melampaui batas-batas kreativitas yang wajar, menciptakan narasi visual yang tidak pernah disepakati oleh sang model di awal kontrak.
Pelanggaran Kontrak dan Hak Privasi
Persoalan hukum ini semakin pelik karena Rainbow USA diduga tetap menggunakan materi iklan tersebut bahkan setelah kontrak kerja sama berakhir pada Maret 2025. Berdasarkan dokumen gugatan yang dikutip dari berbagai sumber, kontrak awal hanya memberikan izin bagi perusahaan untuk melakukan penyesuaian minor seperti pemotongan gambar (cropping) atau koreksi warna, bukan menciptakan gambar baru sepenuhnya menggunakan AI.
Pujols mengaku telah melayangkan surat peringatan keras atau cease and desist letter agar perusahaan menghentikan penggunaan wajahnya secara digital. Namun, iklan-iklan tersebut diklaim masih beredar luas di situs web resmi, media sosial, hingga pajangan fisik di toko-toko retail. Melalui kuasa hukumnya, Pujols menuntut keadilan atas pelanggaran hak privasi, pencemaran nama baik, dan penyalahgunaan identitas untuk kepentingan komersial.
Pembelaan dari Pihak Retailer
Di sisi lain, pihak Rainbow USA tidak tinggal diam. Melalui juru bicaranya, perusahaan membantah keras seluruh tuduhan yang dilayangkan oleh Pujols. Mereka bersikeras bahwa penggunaan gambar tersebut masih dalam koridor hak milik perusahaan yang sah dan tidak melanggar ketentuan hukum mana pun.
Kasus ini menjadi pengingat bagi para pelaku industri kreatif bahwa regulasi terkait penggunaan AI harus segera diperketat. Tanpa perlindungan hukum yang jelas, identitas siapa pun bisa dengan mudah dimanipulasi di era digital, mengubah wajah nyata menjadi sekadar komoditas algoritma tanpa nyawa.