Transformasi Haru Eks Pramugari Garuda: Antara Memori Keliling Dunia dan Realitas Hidup Saat Ini
Minggu, 07 Jun 2026 19:35 WIB
Kabarmalam.com — Di balik gemerlapnya seragam pramugari dan keindahan destinasi ikonik dunia, tersimpan sebuah narasi tentang penerimaan dan keikhlasan yang menyentuh hati. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh sebuah video viral yang menampilkan transformasi drastis seorang mantan pramugari bernama Aizah Wiska.
Melalui akun Instagram pribadinya @faizahwiska, wanita berusia 37 tahun ini membagikan potret kontras kehidupannya. Video yang telah ditonton lebih dari 5,4 juta kali tersebut memperlihatkan transisi emosional dari sosok ibu rumah tangga sederhana yang sibuk mengurus buah hati, kembali ke masa-masa emasnya saat masih aktif mengudara. “Kok aku nangis ya ngeditnya,” tulis Iza dalam keterangan unggahan tersebut, sebuah kalimat singkat yang mampu menggambarkan betapa dalam nostalgia yang ia rasakan.
Kilas Balik Kehidupan di Atas Awan
Dalam tayangan tersebut, penonton diajak melihat kilas balik perjalanan Iza selama sepuluh tahun menjadi bagian dari maskapai kebanggaan tanah air, Garuda Indonesia. Dari momen pelatihan yang penuh disiplin hingga foto-foto estetik di depan Big Ben London, Menara Jam Makkah, hingga kemegahan Tembok Besar China. Hidupnya kala itu adalah impian banyak orang: menjelajahi dunia dan memiliki kemandirian finansial yang mapan.
Namun, roda kehidupan terus berputar. Mantan pramugari yang bergabung sejak 2010 ini memutuskan untuk menanggalkan seragamnya pada November 2020. Keputusan yang awalnya diambil dengan penuh keyakinan itu ternyata membawanya ke sebuah fase hidup yang sama sekali tak terduga.
Berdamai dengan Realitas dan Ego
Saat berbincang hangat dengan tim kami, Iza mengakui bahwa unggahan tersebut lahir dari pergolakan batinnya dalam upaya berdamai dengan kenyataan. Kehidupan pasca-resign tidak berjalan semulus yang ia bayangkan. “Sebenarnya aku lagi di fase berusaha berdamai dengan diri sendiri. Memutuskan resign tapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan rencanaku,” ungkapnya jujur. Ia tak menampik adanya rasa penyesalan yang sempat menghantui, namun ia memilih melihatnya sebagai cara Tuhan untuk mengajarkannya arti kerendahan hati.
Transisi dari seorang wanita karier dengan penghasilan tinggi menjadi seorang ibu rumah tangga di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang diuji bukanlah hal mudah. Iza bercerita bahwa kebangkrutan yang dialami suaminya menjadi ujian berat bagi ego dan mentalnya. Dulu, dengan materi yang berlimpah, ia mengaku sempat kurang menghargai sosok suami. Kini, di titik inilah ia belajar untuk saling memahami dan menundukkan kepala.
Pesan Kekuatan untuk Sesama Perempuan
Meski kini ia banyak menghabiskan waktu dengan pakaian kasual dan hijab sederhana di kediamannya di Padang, Sumatra Barat, Iza tetap membawa mental baja yang ia peroleh dari kerasnya dunia kerja. Baginya, tekanan dan omelan senior di masa lalu adalah guru yang membentuk karakternya hari ini. Pengalaman memulai dari nol, berbuat salah, hingga belajar di bawah tekanan justru menjadi fondasi kekuatannya saat ini.
Kepada para perempuan yang mungkin sedang berada di titik terendah, Iza menitipkan pesan penguat. Ia menekankan bahwa menangis saat terjatuh adalah proses yang manusiawi, namun bangkit adalah sebuah keharusan. “Maafkan keadaan yang menyakitkan, karena di situlah sumber ketenangan,” tuturnya bijak.
Menutup ceritanya, ia memberikan catatan penting mengenai kemandirian. Menurutnya, memiliki penghasilan sendiri, sekecil apa pun itu, tetap penting bagi seorang ibu rumah tangga agar tetap memiliki nilai tawar dan rasa percaya diri. Sebuah perjalanan hidup yang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak hanya terletak pada tingginya jabatan, melainkan pada ketangguhan dalam menjalani setiap peran yang diberikan oleh Sang Pencipta.