Ikuti Kami
kabarmalam.com

Tabir Gelap ‘The Happiest Place on Earth’: Pengakuan Mengejutkan Mantan Princess Disney Soal Pelecehan

Jurnal | kabarmalam.com
Jumat, 05 Jun 2026 13:34 WIB
Tabir Gelap 'The Happiest Place on Earth': Pengakuan Mengejutkan Mantan Princess Disney Soal Pelecehan

Kabarmalam.com — Bagi jutaan orang di seluruh dunia, Disneyland adalah personifikasi dari kebahagiaan dan perwujudan mimpi masa kecil. Namun, di balik kemegahan kastil dan senyum abadi para pemerannya, tersimpan sisi kelam yang jarang terungkap ke publik. Sejumlah mantan pemeran tokoh ikonik atau yang biasa disebut ‘Princess’ Disney, mulai berani menyuarakan pengalaman pahit mereka terkait kerentanan terhadap pelecehan seksual saat sedang bertugas.

Integritas Karakter: Aturan Emas yang Menjadi Boomerang

Menjadi seorang putri di Disneyland bukan sekadar mengenakan gaun indah, melainkan sebuah komitmen total untuk menghidupkan karakter tersebut tanpa cela. Hunter Haag, seorang mantan aktris di Disney World, mengungkapkan bahwa aturan utama bagi setiap performer adalah menjaga ‘integritas karakter’. Sayangnya, profesionalisme tingkat tinggi ini justru sering kali disalahgunakan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

“Integritas karakter adalah prioritas nomor satu. Anda dilarang keras merusak karakter tersebut, bahkan jika seseorang mencoba memancing atau mengganggu Anda,” ungkap Hunter dalam sebuah wawancara mendalam. Bagi para pemeran, aturan ini seolah menjadi jerat yang membuat mereka tidak bisa berkutik saat menghadapi perilaku tidak senonoh, demi menjaga imajinasi pengunjung lainnya.

Baca Juga  Alasan Juto Tsuji, Putra Miho Nakayama, Tolak Warisan Senilai Rp 213 Miliar

Memori Pahit Hunter Haag: Pelecehan di Tengah Keramaian

Hunter, yang pernah menghidupkan karakter Rapunzel dan Belle sepanjang tahun 2016 hingga 2021, mengenang salah satu insiden paling menjijikkan yang pernah ia alami. Ironisnya, tindakan tersebut datang dari seorang pria yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Pria tersebut melakukan gerakan lidah yang sangat eksplisit dan tidak senonoh ke arahnya, sementara pengunjung lain kerap melontarkan komentar kasar yang merendahkan martabatnya sebagai wanita.

Kisah Kelam Alyssa Klinzing: Terjebak dalam Kostum Elsa

Kisah yang lebih traumatis dibagikan oleh Alyssa Klinzing. Saat usianya masih 20 tahun dan memerankan karakter Putri Elsa, sebuah pertemuan rutin dengan tamu berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Alyssa menceritakan bagaimana seorang pengunjung pria memeluknya dengan cara yang sangat tidak wajar.

Baca Juga  Kontroversi Distorsi Sejarah Perfect Crown: IU dan Byeon Woo Seok Sampaikan Permohonan Maaf Mendalam

“Tamu itu memelukku, lalu mulai mengendus dari bahu hingga ke telingaku. Bibirnya menempel di kulitku, dan dia berbisik dengan suara rendah tentang mimpi kotor yang ia miliki tentangku. Saat itu, aku benar-benar membeku karena ketakutan,” kenang Alyssa dengan nada getir.

Alyssa juga membeberkan insiden lain yang lebih berani, di mana pelaku mencoba meraba bagian sensitifnya di balik jubah kostum. Karena aturan ketat yang melarang pemeran melepas karakter atau bereaksi negatif di depan umum, ia merasa benar-benar sendirian dan tidak berdaya dalam situasi yang terasa berjalan seperti gerakan lambat tersebut.

Sikap Manajemen yang Dianggap Kurang Tegas

Yang paling menyakitkan bagi para korban bukanlah sekadar tindakan pelecehan tersebut, melainkan respon dari pihak manajemen. Alyssa mengaku telah melaporkan kejadian-kejadian tersebut dan bahkan mempertimbangkan jalur hukum. Namun, ia merasa dukungan dari perusahaan sangat minim.

Baca Juga  Ramalan Zodiak 2 Mei: Cancer Kendalikan Emosi, Leo Perlu Bijaksana, dan Virgo Panen Perhatian

Pihak manajemen dilaporkan memberikan alasan bahwa tamu tersebut memiliki disabilitas intelektual, sehingga tetap diizinkan berkunjung asalkan didampingi. Namun, bagi Alyssa, hal ini tidak mengurangi rasa terancam yang ia rasakan setiap kali melihat pelaku kembali ke area bermain.

“Setiap kali aku bertemu dengannya, aku selalu mengajukan laporan resmi. Aku melakukan semua prosedur yang diminta perusahaan, namun mereka seolah tidak melakukan tindakan nyata untuk melindungiku. Sangat melelahkan secara mental bagi para pemain yang harus menghadapi risiko ini setiap hari,” tutupnya.

Fenomena ini membuka mata dunia bahwa di balik gemerlap lampu dan parade musik di Disney World, ada perjuangan fisik dan mental dari para pekerja yang sering kali terabaikan demi menjaga label ‘tempat paling bahagia di dunia’.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com