Ikuti Kami
kabarmalam.com

Perjuangan Cinta di Brebes: Rombongan Pengantin Terjang Jalur Ekstrem Belah Hutan Demi Ijab Kabul

Jurnal | kabarmalam.com
Rabu, 08 Apr 2026 10:27 WIB
Perjuangan Cinta di Brebes: Rombongan Pengantin Terjang Jalur Ekstrem Belah Hutan Demi Ijab Kabul

Kabarmalam.com — Cinta memang butuh perjuangan, namun apa yang dialami oleh seorang pengantin pria di Kabupaten Brebes ini benar-benar membawa definisi ‘perjuangan’ ke level yang berbeda. Baru-baru ini, sebuah video yang memperlihatkan rombongan pengantin harus berjibaku melewati medan alam liar demi mencapai lokasi akad nikah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Momen yang mengaduk emosi sekaligus mengundang tawa ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun TikTok @hanaaina_22. Dalam rekaman tersebut, tak ada iring-iringan mobil mewah atau jalanan aspal yang mulus. Sebaliknya, rombongan pengantin justru terlihat seperti sedang melakukan ekspedisi menembus hutan rimba dan perbukitan yang terjal.

Medan Ekstrem yang Menguras Tenaga

Lika-liku perjalanan ini bermula saat rombongan pengantin pria, Bakir (32), berangkat dari kediamannya di wilayah Sidamukti, Adisana, Bumiayu. Tujuannya adalah rumah sang dambaan hati, Anah (28). Siapa sangka, perjalanan menuju kebahagiaan tersebut harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam dengan kondisi jalan yang terus menanjak tanpa ampun.

Baca Juga  Gila! Album “Arirang” BTS Pecahkan Rekor Dunia, Penjualannya Tembus 4 Juta Sehari

Hana Aina (24), sosok di balik video viral tersebut, menceritakan pengalamannya kepada tim redaksi. Ia mengaku terkejut saat menyadari bahwa akses menuju lokasi pernikahan viral tersebut sama sekali tidak bisa dijangkau oleh kendaraan bermotor. Seluruh tamu undangan, yang sudah berdandan rapi dengan kebaya, gamis, hingga sepatu hak tinggi, terpaksa harus turun dan menyusuri jalan setapak.

“Begitu sampai di tempat parkir, suasana sangat sepi. Tidak ada janur kuning atau suara musik hajatan yang biasanya terdengar dari kejauhan. Ternyata, kami masih harus masuk ke dalam hutan dan melewati pinggiran sawah yang becek,” ungkap Hana menggambarkan suasana yang di luar ekspektasi tersebut.

Kontrasnya Busana Pesta dan Lumpur Sawah

Pemandangan unik pun tercipta ketika para pengantar pengantin pria tetap berusaha menjaga penampilan meski kaki mereka harus terbenam dalam lumpur. Pengantin pria sendiri tampak gagah mengenakan setelan jas dan kain batik, sambil memegang payung hijau untuk melindungi diri dari sengatan matahari di tengah rimbunnya pepohonan.

Baca Juga  Perseteruan Dingin di Balik Layar Calvin Klein: Mengapa Carolyn Bessette Kurang Menyukai Gwyneth Paltrow?

Gelak tawa pecah di antara napas yang terengah-engah. Bayangkan saja, para ibu-ibu dengan rok panjang dan sepatu cantiknya harus menjaga keseimbangan di atas pematang sawah yang licin. Cerita unik ini pun sontak memancing beragam komentar jenaka dari warganet yang membayangkan betapa beratnya perjuangan sang pria saat masih dalam masa pendekatan atau ‘apel’ ke rumah calon istrinya.

Resepsi Sederhana di Depan Kandang Kambing

Setibanya di lokasi tujuan, kejutan belum berakhir. Alih-alih disambut dengan tenda dekorasi yang megah, rombongan justru mendapati suasana yang sangat bersahaja. Karena kendala akses jalan yang sulit, pemilik rumah tidak mendirikan tenda besar. Prosesi pun berlangsung secara intim dan sederhana.

Ada satu momen yang menurut Hana sangat berkesan dan tak terlupakan. Rombongan dipersilakan duduk lesehan di atas karpet untuk menikmati hidangan yang disediakan. Uniknya, tempat mereka menyantap makanan berada tepat di depan kandang kambing. “Kami makan dan mengobrol santai dengan aroma khas dari kandang kambing. Tapi justru itu yang membuat pengalaman ini sangat berkesan dan jadi bahan cerita yang menarik,” tambahnya.

Baca Juga  Timbangan Tak Mau Turun? Ini 5 Rahasia Mengatasi Plateau Berat Badan yang Wajib Anda Tahu

Pulang dengan Fisik yang ‘Tumbang’

Meskipun prosesi ijab kabul berjalan lancar dan sah, tantangan sesungguhnya kembali terasa saat perjalanan pulang. Medan yang menanjak dan cuaca panas khas Kabupaten Brebes membuat fisik para rombongan seolah mencapai batasnya. Hana menuturkan bahwa banyak anggota rombongan yang merasa pusing dan kelelahan luar biasa setibanya di titik jemputan.

Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa di balik megahnya sebuah pesta, ada esensi dari sebuah janji suci yang terkadang menuntut pengorbanan fisik dan mental. Bagi Bakir dan Anah, perjalanan membelah hutan ini bukan sekadar rintangan, melainkan babak awal yang epik dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com