Jenderal Alas Bedak: Pesona Zhang Linghe di Pursuit of Jade Tuai Kritik Tajam dari Pemerintah China
Rabu, 08 Apr 2026 17:05 WIB
Kabarmalam.com — Kehadiran aktor Zhang Linghe dalam serial drama terbaru berjudul ‘Pursuit of Jade’ memang berhasil menyihir jutaan pasang mata, terutama kaum hawa. Namun, siapa sangka ketampanan paripurna sang jenderal di medan perang justru memicu gelombang kontroversi hingga menarik perhatian serius dari otoritas pemerintah China.
Berperan sebagai Jenderal Xie Zheng, Zhang Linghe tampil memukau dengan wajah yang tetap ‘glowing’ meski berada di tengah desingan pedang dan debu peperangan. Ketidaksesuaian visual ini memicu perdebatan hangat di kalangan penonton yang merasa penggambaran tersebut jauh dari kesan realistis seorang prajurit tangguh.
Antara Romansa dan Realitas Perang
‘Pursuit of Jade’ sendiri merupakan sebuah drama kolosal yang mengisahkan intrik pernikahan pura-pura antara seorang putri penjual daging, Fan Changyu, dengan seorang bangsawan bernama Xie Zheng. Di balik skenario pernikahan tersebut, tersimpan agenda rahasia dan perseteruan darah yang telah berlangsung selama belasan tahun. Karakter Xie Zheng digambarkan sebagai mantan bangsawan yang harus berjuang di medan laga demi menuntaskan dendam masa lalu.
Meskipun penonton dimanjakan dengan visual Zhang Linghe yang gagah dalam balutan baju zirah, banyak pihak menilai riasannya terlalu sempurna atau flawless untuk ukuran seorang panglima perang. Netizen di media sosial bahkan menyematkan julukan sindiran sebagai ‘jenderal alas bedak’. Muncul seloroh sinis yang menyebut bahwa karakter Xie Zheng mungkin bangun pukul 4 pagi hanya untuk berdandan sebelum memimpin pertempuran pada pukul 6 pagi.
Teguran dari Media Pemerintah
Diskusi panas ini rupanya tidak berhenti di forum penggemar saja. Akun resmi Komite Provinsi Zhejiang, yang berafiliasi dengan pemerintah, ikut angkat bicara. Mereka memberikan komentar kritis terkait tren penggunaan makeup yang berlebihan dan sikap karakter yang dianggap kurang memiliki sisi maskulinitas militer. Menurut laporan tersebut, estetika yang terlalu ‘cantik’ justru membuat karakter terasa asing dan tidak menyatu dengan latar belakang peperangan yang seharusnya keras dan brutal.
Pemerintah China menyatakan kekhawatiran bahwa tren di industri hiburan saat ini cenderung memprioritaskan daya tarik visual di atas kedalaman karakter. Hal ini dikhawatirkan dapat mendistorsi persepsi generasi muda terhadap sejarah dan memberikan pemahaman yang keliru mengenai budaya China di mata dunia internasional.
Pembelaan Melalui Estetika Tradisional
Di sisi lain, tidak semua pihak memandang negatif penampilan Zhang Linghe. CCTV News memberikan perspektif berbeda dengan memuji gaya visual sang aktor. Mereka berargumen bahwa elemen-elemen seperti hiasan kepala bulu burung pegar yang dikenakan Xie Zheng sebenarnya adalah upaya untuk memadukan estetika opera tradisional dengan warisan budaya luhur. Bagi mereka, detail tersebut justru memberikan pesona oriental yang unik dan berkarakter.
Meski dalam novel aslinya Xie Zheng digambarkan memiliki wajah tampan bak giok dingin, para kritikus tetap mengingatkan agar produser film tidak terjebak pada komersialisasi wajah semata. Keseimbangan antara ketampanan aktor dan otentisitas cerita tetap menjadi tantangan besar bagi masa depan drama-drama sejarah di China.