Drama ‘Startup Kecil’ Phoebe Gates: Putri Bill Gates Dihujat Karena Tawar Murah Tarif Influencer
Rabu, 08 Apr 2026 16:11 WIB
Kabarmalam.com — Membawa nama besar keluarga salah satu orang terkaya di dunia ternyata tidak selamanya menjadi karpet merah yang mulus dalam dunia bisnis. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh Phoebe Gates, putri bungsu dari pendiri Microsoft, Bill Gates. Wanita berusia 23 tahun ini mendadak menjadi pusat perbincangan hangat di media sosial setelah dituding mencoba melakukan negosiasi harga yang dianggap tidak pantas kepada seorang kreator konten profesional.
Kontroversi ini mencuat ke permukaan setelah Kacie Margis, seorang influencer yang aktif di berbagai platform digital, membagikan pengalamannya saat dihubungi oleh tim atau langsung oleh Phoebe melalui startup miliknya, Phia. Margis mengungkapkan rasa herannya ketika perusahaan besutan anak miliarder tersebut mencoba menekan tarif jasanya dengan narasi sedang ‘merintis dari nol’.
Alasan ‘Startup Kecil’ yang Memicu Reaksi Keras
Dalam sebuah unggahan yang kemudian viral, Margis membagikan tangkapan layar pesan singkat (DM) dari akun Phoebe. Dalam pesan tersebut, Phoebe menyatakan ketertarikannya untuk berkolaborasi dalam rangka peluncuran brand miliknya. Namun, yang menjadi sorotan tajam adalah alasan yang digunakan Phoebe untuk mendapatkan harga miring.
“Hey love! Aku menemukan profilmu dan sangat suka kontenmu. Kami akan launching akhir bulan ini dan akan sangat senang kalau kamu mau membantu share. Kami masih startup kecil, jadi budget kami sangat terbatas, tapi kami tetap ingin bekerja sama,” bunyi potongan pesan tersebut. Padahal, tarif yang dipasang Margis tergolong cukup terjangkau untuk standar industri di Amerika Serikat, yakni hanya US$250 atau sekitar Rp 4 jutaan.
Margis merasa narasi tersebut sangat ironis. “Ketika anak seorang miliarder mengatakan bahwa anggarannya ‘sangat terbatas’ dan ini adalah ‘bisnis kecil yang sedang merintis’ hanya untuk mencoba membayar saya lebih rendah dari tarif yang sudah saya tetapkan secara publik,” sindirnya dalam unggahan tersebut.
Kritik Netizen dan Ambisi Kemandirian yang Kontroversial
Respons dari para netizen pun meledak seketika. Banyak pihak yang mengecam tindakan Phoebe dan menganggapnya sebagai bentuk kurangnya penghargaan terhadap nilai kerja para pelaku industri kreatif. Beberapa komentar pedas menyebut bahwa perilaku tersebut seolah memanfaatkan tenaga kreator demi keuntungan bisnis pribadinya tanpa kompensasi yang layak.
“Dia tidak mau membayar US$250? Ini gila. Kita harus berhenti membiarkan anak-anak miliarder bersikap seolah-olah mereka adalah pejuang ekonomi lemah,” tulis salah satu pengguna media sosial. Kritik lain menyoroti gaya hidup mewah Phoebe yang dinilai sangat kontras dengan klaim ‘anggaran terbatas’ yang ia sampaikan kepada vendor.
Di sisi lain, Phoebe Gates sebelumnya memang sempat menyatakan secara terbuka bahwa ia ingin membangun kerajaan bisnisnya sendiri tanpa bergantung pada kekayaan sang ayah, Bill Gates. Ia bahkan mengklaim menolak suntikan dana dari ayahnya agar startup Phia bisa berdiri secara mandiri. Namun, bagi publik, langkah Phoebe kali ini justru dianggap salah kaprah dalam mempraktikkan kemandirian finansial.
Kasus ini menjadi pengingat bagi para pemilik brand bahwa profesionalisme dalam berbisnis, termasuk menghargai tarif penyedia jasa, tetap menjadi prioritas utama terlepas dari siapa latar belakang keluarga sang pemilik perusahaan.