Alasan Juto Tsuji, Putra Miho Nakayama, Tolak Warisan Senilai Rp 213 Miliar
Rabu, 08 Apr 2026 07:38 WIB
Kabarmalam.com — Kepergian sang legenda layar perak Jepang, Miho Nakayama, menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan publik yang tajam mengenai harta peninggalannya. Aktris yang menyentuh hati jutaan orang lewat film legendaris “Love Letter” ini dikabarkan meninggalkan kekayaan mencapai 2 miliar yen atau setara dengan Rp 213 miliar. Namun, sebuah keputusan mengejutkan datang dari putra tunggalnya, Juto Tsuji, yang memilih untuk sepenuhnya melepas hak atas warisan fantastis tersebut.
Langkah Juto Tsuji ini seketika memicu gelombang tanya di tengah masyarakat Jepang. Mengapa seorang pemuda berusia 22 tahun bersedia melepaskan nominal yang bisa menjamin masa depannya? Melansir laporan dari media lokal seperti Josei Jishin dan Jujumun, Juto yang kini menetap di Paris, Prancis, telah memantapkan hati untuk tidak mengambil sepeser pun harta ibunya.
Retaknya Hubungan Emosional dan Jarak yang Memisahkan
Di balik angka-angka yang menggiurkan, tersimpan kisah melankolis tentang kerenggangan hubungan antara ibu dan anak. Juto Tsuji adalah buah hati dari pernikahan Miho dengan penulis ternama, Hitonari Tsuji, yang berlangsung pada tahun 2002. Kehidupan mereka semula harmonis di Paris, hingga badai perceraian menerjang pada sepuluh tahun kemudian.
Pasca-perpisahan tersebut, hak asuh Juto jatuh ke tangan sang ayah. Sejak saat itu, komunikasi antara Juto dan Miho dikabarkan terputus total. Jarak geografis dan emosional yang terbangun selama lebih dari satu dekade disinyalir menjadi faktor utama mengapa Juto merasa tidak memiliki keterikatan lagi dengan aset-aset yang ditinggalkan mendiang ibunya. Bagi Juto, menerima kekayaan tersebut mungkin terasa asing bagi hubungan mereka yang telah lama mendingin.
Beban Pajak Warisan Jepang yang Mencekik
Selain alasan sentimental, terdapat faktor pragmatis yang sangat masuk akal di balik penolakan ini. Aktris Jepang sekelas Miho Nakayama memiliki aset yang kompleks, mulai dari properti real estat hingga hak cipta karya seninya. Namun, hukum di Negeri Matahari Terbit dikenal sangat ketat dalam urusan suksesi kekayaan.
Berdasarkan regulasi yang berlaku, pajak warisan di Jepang untuk jumlah besar bisa menyentuh angka 55%. Masalah utama bagi Juto bukan hanya besarnya nilai pajak, melainkan likuiditas aset tersebut. Sebagian besar kekayaan Miho tidak berbentuk uang tunai siap pakai, melainkan properti yang sulit dicairkan dalam waktu singkat. Bagi Juto yang menetap di luar negeri, mengelola proses administrasi yang rumit serta menanggung beban pajak yang sangat tinggi dianggap sebagai tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul.
Mengenang Sosok ‘Miporin’ yang Tak Tergantikan
Miho Nakayama bukan sekadar aktris biasa. Ia adalah ikon kecantikan Jepang pada era 80-an dan 90-an yang dijuluki ‘Miporin’ oleh para penggemarnya. Kariernya yang cemerlang dimulai sejak debutnya pada 1985 lewat drama “I always make a fuss”. Tak hanya berakting, ia juga merupakan penyanyi papan atas yang berhasil menjual lebih dari 17 juta kopi album sepanjang hidupnya.
Dunia sinema internasional mengenangnya lewat mahakarya film Love Letter (1995). Dialog ikonik dan aktingnya yang memukau dalam film tersebut bahkan masih sering dibicarakan hingga menjadi fenomena di media sosial saat ini. Sayangnya, perjalanan hidup sang bintang berakhir tragis saat ia ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Shibuya-ku, Tokyo, pada 6 Desember 2024 lalu.
Kepergiannya di usia 54 tahun yang mendadak membuat rencana konser Natalnya di Osaka batal seketika. Meski sang idola telah tiada dan sang putra memilih jalannya sendiri, warisan artistik Miho Nakayama akan tetap abadi di hati para penikmat karyanya di seluruh dunia.