Rahasia Metabolisme Optimal: Mengapa Pakar Kesehatan Tetap Menyarankan Sarapan di Tengah Tren Diet
Selasa, 07 Apr 2026 09:27 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah gelombang tren diet intermiten yang kian populer, perdebatan mengenai pentingnya makan pagi kembali mencuat ke permukaan. Namun, bagi para ahli gizi, sarapan bukan sekadar rutinitas pengisi perut, melainkan kunci untuk menjaga ritme biologis tubuh tetap harmonis. Menjaga pola makan sehat ternyata tidak hanya soal apa yang dimakan, tetapi juga tentang konsistensi waktu kapan nutrisi tersebut masuk ke dalam tubuh.
Praktisi kesehatan terkemuka, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, mengungkapkan bahwa tubuh manusia memiliki kesiapan paling prima untuk mengolah asupan makanan di pagi hari. Dalam sebuah diskusi kesehatan yang berlangsung di Jakarta Selatan baru-baru ini, ia menjelaskan bahwa mekanisme internal tubuh bekerja lebih efisien saat fajar menyingsing. “Tubuh paling siap mengolah makanan di pagi hari. Dampaknya, kadar gula darah akan cenderung lebih stabil sepanjang hari,” jelas dr. Juwalita.
Pentingnya Konsistensi dan Mengenal Karakter Tubuh
Meski sarapan sangat dianjurkan, dr. Juwalita memberikan catatan penting mengenai fleksibilitas individu. Menurutnya, yang paling utama adalah membangun jadwal yang konsisten. Bagi mereka yang memang sudah bertahun-tahun tidak terbiasa menyantap makanan di pagi hari, memaksakan diri secara tiba-tiba justru bisa menjadi bumerang. Langkah drastis yang tidak disesuaikan dengan kebiasaan tubuh ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan pada upaya menurunkan berat badan atau justru merusak metabolisme yang sudah terbentuk.
Bergeser ke tengah hari, makan siang dipandang sebagai sesi makan utama yang harus dipenuhi dengan amunisi energi lengkap. dr. Juwalita menyarankan agar piring makan siang tidak hanya sekadar mengenyangkan, tetapi juga kaya akan sumber protein dan serat. Kombinasi ini krusial untuk memastikan tubuh memiliki tenaga yang cukup untuk menuntaskan aktivitas hingga petang tanpa merasa lemas atau lapar yang berlebihan.
Waspadai Jebakan Makan Malam Berlebihan
Satu hal yang sering menjadi kesalahan fatal bagi banyak orang urban adalah menjadikan makan malam sebagai sesi makan dengan porsi terbesar. Padahal, kebiasaan ini bertolak belakang dengan fungsi fisiologis manusia. Saat matahari terbenam, mesin metabolisme tubuh pun mulai melambat sebagai persiapan untuk beristirahat.
“Hindari makan berat di malam hari karena secara fisiologis metabolisme kita sudah mulai menurun,” tegas dr. Juwalita. Ia memberikan batasan waktu yang cukup ketat namun efektif untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Sang dokter menyarankan agar batas akhir asupan makanan adalah pukul 19.00 WIB.
- Risiko Penumpukan Lemak: Makan di atas jam 7 malam meningkatkan kemungkinan kalori yang tidak terbakar berubah menjadi cadangan lemak.
- Lonjakan Gula Darah: Proses pengolahan glukosa yang melambat di malam hari membuat gula darah lebih mudah melonjak.
- Kualitas Tidur: Perut yang terlalu penuh saat tidur dapat mengganggu kualitas istirahat dan memicu asam lambung.
Melalui panduan ini, terlihat jelas bahwa kunci hidup sehat bukan terletak pada diet ekstrem, melainkan pada pemahaman mengenai jam biologis tubuh sendiri. Dengan menjaga asupan tetap seimbang dan mematuhi ritme metabolisme, kesehatan optimal bukan lagi sekadar impian.