Tragedi Berdarah di Pesta Pernikahan Purwakarta: 5 Fakta Pemilik Hajatan Tewas di Tangan Preman
Senin, 06 Apr 2026 01:47 WIB
Kabarmalam.com — Kebahagiaan sebuah keluarga di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Purwakarta, seketika berubah menjadi duka mendalam. Sebuah hajatan pernikahan yang seharusnya menjadi momen sakral dan penuh tawa, justru berakhir tragis setelah sang tuan rumah, Dadang, tewas di tangan sekelompok preman. Insiden memilukan ini bermula dari aksi pemalakan yang berujung pada tindakan kekerasan brutal.
Tim redaksi Kabarmalam.com telah merangkum fakta-fakta krusial di balik peristiwa yang menggegerkan warga Jawa Barat ini:
1. Pesta Pernikahan Anak yang Berubah Menjadi Takziah
Nasib nahas menimpa Dadang pada Sabtu (4/4) malam. Saat itu, ia tengah menggelar resepsi pernikahan untuk buah hatinya. Namun, suasana hangat di rumahnya mendadak mencekam ketika sekelompok pemuda datang dan memicu keributan. Berdasarkan keterangan dari Polres Purwakarta, keributan tersebut berujung pada aksi pemukulan yang membuat korban jatuh pingsan dan akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah dilarikan ke rumah sakit.
2. Dipicu Pemalakan Berkedok ‘Jatah’ Keamanan
Motif di balik penganiayaan ini sangatlah klise namun fatal, yakni pemalakan. Wahyudin, adik korban, menceritakan bahwa kelompok preman tersebut sempat datang dua kali. Pada kunjungan pertama, mereka meminta uang dan diberi Rp 100 ribu oleh pihak keluarga. Merasa kurang, satu jam kemudian mereka kembali lagi dan meminta jatah tambahan sebesar Rp 500 ribu.
3. Korban Dikeroyok Saat Mencoba Bertahan
Penolakan korban terhadap permintaan kedua yang dinilai tidak masuk akal tersebut menyulut amarah para pelaku. Keributan pecah di luar tenda resepsi. Menurut kesaksian keluarga, Dadang dikeroyok oleh sedikitnya tiga orang, sementara sang adik, Wahyudin, juga menjadi sasaran serangan sekitar delapan orang lainnya. Aksi pengeroyokan yang tidak seimbang ini membuat Dadang terkapar tidak sadarkan diri di lokasi kejadian.
4. Penggunaan Belahan Bambu Sebagai Alat Serangan
Dalam olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pihak kepolisian menemukan barang bukti berupa belahan bambu yang diduga kuat digunakan untuk menghantam bagian kepala korban. Hantaman benda tumpul tersebut disinyalir menjadi penyebab utama korban kehilangan kesadaran seketika. Meski demikian, pihak berwenang masih menunggu hasil autopsi resmi untuk memastikan penyebab medis kematian korban dalam kasus kriminal ini.
5. Identitas Pelaku Sudah di Kantongi Polisi
Pihak kepolisian tidak tinggal diam. Satreskrim Polres Purwakarta menyatakan telah mengantongi identitas para pelaku yang terlibat dalam aksi pengecut tersebut. Saat ini, tim buser sedang melakukan pengejaran secara maraton. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi kunci dan melakukan visum untuk memperkuat bukti penuntutan agar para pelaku segera mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang masih adanya residu premanisme yang meresahkan masyarakat. Kabarmalam.com akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga para pelaku berhasil diringkus.