Ikuti Kami
kabarmalam.com

Refleksi Paskah 2026: Bamsoet Ajak Bangsa Perkuat Rekonsiliasi di Tengah Krisis Global

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 06 Apr 2026 10:07 WIB
Refleksi Paskah 2026: Bamsoet Ajak Bangsa Perkuat Rekonsiliasi di Tengah Krisis Global

Kabarmalam.com — Di tengah riuh rendah dinamika geopolitik yang tak menentu, perayaan Paskah tahun ini menjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk menilik kembali esensi kemanusiaan. Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menekankan bahwa peringatan keagamaan ini harus menjadi titik balik untuk memperkuat simpul persatuan nasional dan merawat kohesi sosial yang mulai diuji oleh tantangan zaman.

Bamsoet menyoroti betapa perayaan Paskah kali ini bersinggungan langsung dengan realitas pahit krisis kemanusiaan di panggung internasional. Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang tahun 2025 saja, lebih dari 240 ribu jiwa melayang akibat konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, dengan titik api utama berada di Gaza, Ukraina, dan Sudan. Tragedi ini, menurutnya, seharusnya mampu menggetarkan nurani moral kolektif masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Baca Juga  Gugur Saat Jaga Mudik, Brigadir Fajar Dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa dari Kapolri

Alarm Krisis Kemanusiaan Global

Pria yang akrab disapa Bamsoet ini memaparkan bahwa tren konflik global saat ini menunjukkan arah yang semakin mengkhawatirkan. Perang modern tidak lagi sekadar adu kekuatan militer, melainkan telah bergeser menjadi krisis yang menyasar warga sipil secara membabi buta. Di Gaza misalnya, hingga awal 2026, korban jiwa telah menembus angka 72 ribu orang, yang mayoritas merupakan penduduk tak berdosa.

Eskalasi serupa juga terjadi di Ukraina. Sepanjang tahun 2025, intensitas serangan drone dan misil ke kawasan pemukiman meningkat tajam, mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan puluhan ribu lainnya luka-luka. “Dunia seolah belum benar-benar belajar dari sejarah. Krisis kemanusiaan ini berdampak sistemik, mulai dari ketahanan ekonomi hingga stabilitas politik dunia yang kian rapuh,” tegas Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta.

Baca Juga  Kedok Konter HP Terbongkar, Polsek Megamendung Sita Ratusan Obat Keras Golongan G di Bogor

Menjaga Indonesia dari Ancaman Polarisasi

Efek domino dari ketidakpastian geopolitik ini secara perlahan mulai merembes ke tanah air melalui tekanan ekonomi dan gangguan rantai pasok global. Bamsoet mengingatkan bahwa situasi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh. Namun, ia juga memberikan catatan khusus mengenai ancaman dari dalam, yakni potensi polarisasi sosial dan politik yang dapat merusak sendi-sendi kebangsaan.

Ia berpesan agar masyarakat tidak terjebak dalam sekat-sekat perbedaan yang tajam. Di tengah dunia yang bergejolak, menjaga api persatuan adalah prioritas utama agar Indonesia tidak terseret dalam gesekan internal yang hanya akan merugikan masa depan bangsa.

Paskah Sebagai Jembatan Rekonsiliasi

Lebih lanjut, Bamsoet melihat pesan utama Paskah—yakni pengampunan dan kebangkitan—sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Baginya, rekonsiliasi adalah kunci utama untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Nilai-nilai tersebut menjadi obat penawar bagi ketegangan sosial yang mungkin muncul akibat dinamika politik maupun ekonomi nasional yang kian kompleks.

Baca Juga  Tragedi Cuaca Ekstrem di Bandung: Puluhan Pohon Tumbang, Satu Pengemudi Mobil Tewas Terjepit

“Bangsa ini tidak butuh perpecahan. Kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog untuk menjembatani perbedaan. Paskah mengajarkan bahwa pengampunan adalah fondasi kokoh untuk membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. Melalui semangat ini, diharapkan Indonesia tetap berdiri tegak sebagai bangsa yang solid di tengah gempuran gejolak global.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul