Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fakta Medis di Balik Vasektomi: Mengapa Rasanya Justru Lebih Ringan Dibanding Sunat?

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 06 Apr 2026 21:47 WIB
Fakta Medis di Balik Vasektomi: Mengapa Rasanya Justru Lebih Ringan Dibanding Sunat?

Kabarmalam.com — Bagi banyak pria, membayangkan prosedur medis di area vital sering kali memicu rasa ngilu dan kekhawatiran yang mendalam. Bayangan akan pisau bedah dan rasa sakit yang tak tertahankan menjadi tembok besar yang menghalangi niat untuk menjalani prosedur vasektomi. Namun, benarkah prosedur sterilisasi ini seseram yang dibayangkan? Pakar urologi justru memberikan perspektif yang mengejutkan: rasa sakit saat vasektomi ternyata jauh lebih ringan dibandingkan dengan prosedur sunat yang umum dijalani anak laki-laki.

Melawan Mitos Rasa Sakit pada Alat Kelamin

Ketakutan akan rasa sakit di area sensitif merupakan alasan utama mengapa angka partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB) masih tergolong rendah. dr. Nur Rasyid, SpU, seorang dokter spesialis urologi, mengungkapkan bahwa banyak pasien yang akhirnya memberanikan diri justru merasa kaget. Mereka menyadari bahwa tindakan ini jauh lebih sederhana dan tidak semenyakitkan yang ada di dalam pikiran mereka selama ini.

Baca Juga  Sering Begadang dan Ngopi? Awas, Penyakit 'Tua' Ini Kini Incar Anak Muda Sampai Rusak Lambung!

Dalam sebuah sesi wawancara, dr. Nur Rasyid menegaskan bahwa prosedur medis ini hanya melibatkan bius lokal dan memakan waktu yang relatif singkat. Pasien tidak perlu merasa khawatir harus menginap di rumah sakit karena sifat tindakannya yang sangat minimal. “Sakitnya lebih sakit disunat,” tegas dr. Nur Rasyid, membandingkan pengalaman umum pria saat kecil dengan prosedur vasektomi dewasa.

Perbedaan Teknis: Mengapa Vasektomi Lebih Ringan?

Secara medis, terdapat alasan logis mengapa vasektomi tidak sepedih yang dibayangkan. Berbeda dengan sunat yang melibatkan pemotongan jaringan kulit atau kulup secara luas, vasektomi hanyalah tindakan untuk menutup jalur sperma (spermatozoa). Tujuannya agar sel sperma tidak lagi bercampur dengan cairan mani saat ejakulasi.

Baca Juga  Vasektomi Bikin Pria 'Loyo'? Menguak Fakta Medis di Balik Mitos Kejantanan yang Viral

Lebih lanjut, dr. Nur Rasyid menjelaskan bahwa meskipun saluran tersebut ditutup, testis tetap menjalankan fungsinya memproduksi sperma secara normal. Lantas, ke mana perginya sperma tersebut? Ternyata, bibit yang tidak bisa keluar itu akan mengalami degradasi atau rusak secara alami seiring berjalannya waktu. Tubuh manusia memiliki mekanisme canggih untuk menyerap kembali sel-sel tersebut tanpa menimbulkan komplikasi atau penyakit tertentu.

Vasektomi vs Tubektomi: Mana yang Lebih Mudah?

Jika dibandingkan dengan kontrasepsi wanita permanen seperti tubektomi, vasektomi memiliki keunggulan yang signifikan dari sisi kemudahan prosedur. Tubektomi mengharuskan tim medis untuk masuk ke dalam rongga perut, yang tentu memiliki risiko dan masa pemulihan yang lebih panjang. Sementara itu, vasektomi hanyalah bedah minor yang dilakukan pada lapisan luar kulit skrotum.

Baca Juga  Rahasia Telur Asin Tetap Awet di Kulkas: Solusi Menu Praktis Pasca Mudik Lebaran

Hambatan terbesar dalam menjalankan vasektomi sebenarnya bukanlah fakta medis, melainkan hambatan psikologis. Banyak pria yang merasa maskulinitasnya terancam atau takut akan efek samping seperti penurunan libido, padahal secara klinis hal tersebut tidak terbukti. Dengan rasa sakit yang sangat minim dan proses pemulihan yang cepat, vasektomi seharusnya menjadi pilihan kontrasepsi pria yang paling logis dan efisien bagi pasangan yang sudah merasa cukup dengan jumlah anggota keluarga mereka.

“Jadi kalau dilihat dari sudut kemudahan, efek samping, dan rasa nyeri, itu jauh lebih mudah vasektomi daripada tubektomi,” pungkas dr. Nur Rasyid menutup penjelasannya.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid