Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ancaman Seller’s Market Menghantui Global, Waka MPR Eddy Soeparno Minta RI Perkuat Diplomasi Energi

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 05 Apr 2026 00:32 WIB
Ancaman Seller’s Market Menghantui Global, Waka MPR Eddy Soeparno Minta RI Perkuat Diplomasi Energi

Kabarmalam.com — Gejolak geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah bukan sekadar isu kemanusiaan semata, melainkan telah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas energi dunia. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, melontarkan peringatan keras mengenai munculnya fenomena seller’s market, di mana para pemilik pasokan kini memegang kendali penuh atas pasar minyak dan gas (migas) global.

Eddy menjelaskan bahwa saat ini mekanisme pasar yang sehat tengah terhenti akibat disrupsi hebat. Ketegangan bersenjata telah mengganggu jalur distribusi vital, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi internasional. Dampaknya, permintaan melonjak tajam sementara pasokan tersendat, memberikan kekuatan absolut bagi produsen untuk mendikte keadaan.

Baca Juga  Arus Balik Membludak! 120 Ribu Kendaraan Diprediksi Serbu GT Cikatama Hari Ini

Dominasi Produsen di Tengah Ketidakpastian

Dalam kondisi seller’s market, para pemasok memiliki kewenangan mutlak dalam menentukan harga, mengatur volume distribusi, hingga memilih kepada siapa energi tersebut akan dijual. Fenomena ini memaksa negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia, untuk berada dalam posisi yang rentan jika tidak segera mengambil langkah strategis.

“Kita sedang menyaksikan bagaimana transaksi migas dunia kini dikendalikan sepenuhnya oleh pemilik pasokan. Ini adalah alarm bagi kita untuk tidak tinggal diam dalam mengamankan kebutuhan domestik,” ujar Eddy Soeparno dalam keterangan resminya.

Lobi Internasional dan Peran Vital Pertamina

Menghadapi situasi yang serba tidak menentu ini, Eddy menekankan pentingnya penguatan mesin diplomasi internasional. Menurutnya, pemerintah harus mengoptimalkan jalur Government to Government (G2G) dan Business to Business (B2B) guna menjamin ketersediaan energi nasional.

  • Diplomasi Agresif: Indonesia perlu merangkul negara-negara sahabat untuk mengamankan pasokan sesuai kemampuan finansial negara.
  • Optimalisasi Pertamina: Sebagai garda terdepan, Pertamina dituntut memaksimalkan jaringan niaga globalnya demi kepastian stok minyak mentah, bensin, dan LPG.
  • Diversifikasi Sumber: Mencari alternatif pemasok di luar jalur yang terdampak konflik untuk meminimalisir risiko gangguan suplai.
Baca Juga  Dunia Lagi Gawat! Pemerintah Bongkar Rahasia Stok BBM RI di Tengah Konflik Iran-Israel

Meskipun Indonesia belum secara resmi menetapkan status darurat energi, Eddy mengingatkan bahwa dunia sudah berada di pusaran krisis energi yang sangat dinamis. Tingginya ketidakpastian harga menuntut pemerintah untuk lebih lincah dan waspada dalam berburu pasokan energi primer di pasar internasional.

Transisi Energi Sebagai Solusi Jangka Panjang

Sebagai Doktor Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Eddy melihat krisis ini sebagai momentum emas bagi Indonesia untuk mempercepat agenda transisi energi. Ketergantungan pada energi fosil yang diimpor harus segera dikurangi dengan beralih ke sumber yang lebih berkelanjutan.

Ia mendorong percepatan program elektrifikasi nasional dan pengembangan sektor bioenergi sebagai benteng pertahanan utama. Langkah ini dinilai strategis untuk menciptakan kemandirian energi di masa depan, mengingat tipisnya batasan antara stabilitas energi dengan stabilitas ketahanan nasional.

Baca Juga  Aksi Nekat Buang Sampah Lintas Kota: Tiga Pria di Pandeglang Terancam Denda Rp 200 Juta

“Situasi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kedaulatan energi adalah harga mati bagi ketahanan nasional. Kita harus bergerak cepat sebelum krisis ini berdampak lebih dalam ke sektor-sektor lainnya,” tutup Eddy.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul