Gawat! Harga Avtur Dunia Meledak 80 Persen, Tiket Pesawat Terancam Melambung Tinggi?
Jumat, 03 Apr 2026 17:37 WIB
Kabarmalam.com – Lonjakan harga avtur dunia yang dilaporkan mencapai angka 80 persen memicu kekhawatiran serius di tanah air. Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, secara tegas meminta pemerintah untuk segera mengantisipasi dampak kenaikan ini agar tidak membebani masyarakat melalui harga tiket pesawat yang berpotensi melambung tinggi.
Dampak Serius bagi Ekonomi dan Pariwisata
Rivqy mengungkapkan bahwa kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan biaya avtur dapat menekan daya beli masyarakat secara signifikan. Selain itu, hal ini berisiko mengganggu konektivitas antarwilayah serta memberikan dampak negatif bagi sektor pariwisata nasional.
“Kita tidak bisa membiarkan mekanisme pasar berjalan tanpa pengawasan dalam situasi ekstrem seperti ini. Pemerintah perlu hadir untuk memastikan kenaikan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat,” tegas Rivqy dalam keterangannya.
Belajar dari Krisis Penerbangan di Vietnam
Ia juga menyoroti kondisi di negara tetangga seperti Vietnam, di mana krisis avtur telah memaksa pengurangan jadwal penerbangan secara drastis. Menurutnya, Indonesia harus mengambil pelajaran berharga agar tidak mengalami kelumpuhan transportasi udara yang serupa.
Untuk menekan dampak tersebut, Rivqy mengusulkan beberapa solusi strategis kepada pemerintah:
- Pertimbangan pemberian subsidi terbatas atau insentif fiskal bagi maskapai penerbangan.
- Peningkatan kapasitas produksi avtur di dalam negeri.
- Efisiensi distribusi logistik untuk meminimalkan biaya operasional.
Sinergi Maskapai BUMN dan Swasta
Lebih lanjut, ia mendorong penguatan kolaborasi antara maskapai pelat merah dengan pihak swasta. Sinergi ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas industri penerbangan nasional di tengah tekanan geopolitik global yang sulit dihindari.
“Hal yang kita jaga bukan hanya industri penerbangan, melainkan aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi yang terjangkau,” tambahnya. Pemerintah diharapkan bergerak cepat dan responsif agar mobilitas udara tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa beban biaya yang berlebihan.