IHSG Meroket Tajam! Ternyata Ini Alasan di Balik Penguatan Bursa Pagi Ini
Rabu, 01 Apr 2026 19:57 WIB
Kabarmalam.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan performa gemilang pada pembukaan perdagangan Rabu pagi. IHSG melesat hingga 101,03 poin atau sekitar 1,43 persen ke posisi 7.149,25, dipicu oleh angin segar dari ekspektasi deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Sentimen Global: Harapan Damai AS-Iran
Penguatan signifikan ini tidak lepas dari harapan pelaku pasar terhadap meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Laporan mengenai sikap terbuka dari pihak AS untuk mengakhiri konflik tanpa mengganggu jalur logistik global memberikan sentimen positif yang luar biasa bagi bursa saham dunia.
Kepala Riset Phintrao Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa IHSG kini tengah menguji level resistance di rentang 7.100 hingga 7.200. Penurunan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor kunci yang mendorong indeks di Wall Street dan bursa Eropa menghijau, yang kemudian menular ke pasar Asia.
Kabar Baik dari Dalam Negeri
Tidak hanya faktor mancanegara, kondisi domestik Indonesia juga mendukung penguatan indeks. Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memberikan kepastian bahwa Pertamina tidak akan menaikkan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi. Hal ini memberikan ketenangan bagi pelaku pasar terkait stabilitas inflasi.
Selain itu, investor menantikan rilis data ekonomi penting seperti neraca perdagangan Februari 2026 yang diprediksi surplus 1,2 miliar dolar AS. Pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan efisiensi anggaran kementerian dengan potensi penghematan hingga Rp130 triliun serta kebijakan WFH bagi ASN setiap hari Jumat guna meningkatkan efisiensi kerja.
Bursa Asia Kompak Menghijau
Sejalan dengan IHSG, mayoritas bursa saham di Asia juga dibuka perkasa pagi ini. Indeks Nikkei melonjak drastis 4,16 persen, sementara Hang Seng dan Shanghai masing-masing menguat di atas 1 persen. Tren positif ini mencerminkan optimisme global terhadap stabilitas ekonomi di tengah dinamika geopolitik yang mulai mendingin.