IHSG Merah Membara! Konflik AS-Iran Bikin Bursa Saham Asia Rontok
Selasa, 31 Mar 2026 15:11 WIB
Kabarmalam.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin sore. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran para pelaku pasar terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian memanas.
Pasar Saham Asia Tertekan Geopolitik
IHSG ditutup melemah tipis 5,39 poin atau 0,08 persen ke posisi 7.091,67. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga turun 0,20 persen ke level 717,49. Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa melemahnya bursa Asia dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang telah memasuki pekan kelima, meskipun berbagai upaya diplomatik terus dilakukan.
Kondisi semakin tegang setelah kelompok Houthi di Yaman dilaporkan menembakkan rudal ke arah Israel. Aksi ini menandai keterlibatan langsung dalam pusaran konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, sehingga meningkatkan risiko bagi aset-aset investasi di pasar global.
Pemerintah Siapkan Skenario Mitigasi
Menanggapi potensi lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik tersebut, pemerintah Indonesia mulai merancang langkah-langkah darurat. Beberapa strategi yang disiapkan antara lain:
- Efisiensi anggaran belanja negara (APBN).
- Penerapan sistem kerja Work From Home (WFH) untuk menekan konsumsi BBM.
- Penguatan mandat Biodiesel 50 persen (B50) guna mengurangi ketergantungan impor migas.
- Penghematan energi secara nasional.
Langkah-langkah ini diambil agar stabilitas energi dan rantai pasok global tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi domestik serta mencegah lonjakan inflasi akibat kenaikan harga BBM subsidi.
Sektor Keuangan Paling Terpukul
Berdasarkan data IDX-IC, sektor keuangan menjadi yang paling menderita dengan koreksi sedalam 1,28 persen. Di sisi lain, sektor energi justru menguat 2,31 persen karena spekulasi kenaikan harga komoditas global. Perdagangan hari ini mencatatkan frekuensi transaksi sebanyak 1,6 juta kali dengan nilai mencapai Rp14,94 triliun.
Kondisi pasar modal ke depan diperkirakan masih akan fluktuatif selama ketidakpastian di Timur Tengah belum mereda. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap pergerakan harga minyak dan kebijakan ekonomi terbaru dari pemerintah.