IHSG Berdarah-darah! Investor Mulai Kabur Gara-gara Panasnya AS-Iran?
Selasa, 31 Mar 2026 15:41 WIB
Kabarmalam.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak melemah tajam mengikuti tren negatif bursa saham di kawasan Asia. Penurunan ini dipicu oleh aksi investor yang mulai menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian memanas.
IHSG dan LQ45 Kompak Memerah
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung anjlok sebesar 76,53 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.020,53. Tak hanya itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga terseret jatuh hingga 1,53 persen ke level 707,96. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor untuk tetap waspada dan melakukan aksi wait and see menanti rilis data penting seperti payroll AS dan inflasi domestik.
Sentimen Global dan Ancaman Krisis Energi
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berita-berita utama terkait ketegangan di Timur Tengah. Meskipun ada upaya mediasi, risiko eskalasi militer tetap tinggi. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menekan pasar:
- Ketidakpastian di Selat Hormuz yang menghambat distribusi minyak global.
- Harga minyak dunia (Brent dan WTI) yang masih bertengger di atas 100 dolar AS per barel.
- Potensi inflasi global melonjak jika harga minyak menembus angka 150 dolar AS per barel menurut prediksi UBS.
- Tekanan politik di Amerika Serikat akibat gelombang demonstrasi masif.
Dampak Terhadap Ketahanan Energi Indonesia
Di tengah konflik tersebut, dua kapal tanker milik Pertamina akhirnya mendapat izin keluar dari Selat Hormuz setelah komunikasi intensif pemerintah. Namun, kapasitas angkut kedua tanker tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan BBM nasional untuk jangka waktu yang sangat singkat. Hal ini menjadi peringatan keras mengenai rapuhnya ketahanan energi nasional jika gangguan pasokan global terus terjadi dalam waktu lama.
Bursa Global dan Regional Ikut Tumbang
Pelemahan ini merata hampir di seluruh dunia. Wall Street ditutup memerah dengan Nasdaq terkoreksi 1,93 persen. Sementara itu di Asia, indeks Nikkei Jepang bahkan ambruk lebih dari 4 persen. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini, aset aman atau safe haven seperti emas dan Yen Jepang pun gagal memberikan perlindungan maksimal, memaksa investor untuk mengurangi eksposur risiko secara agresif.