Gawat! Trump Sebut Kuba Bakal Lumpuh Total Tanpa Pasokan Minyak Venezuela
Senin, 30 Mar 2026 05:32 WIB
Kabarmalam.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim mengejutkan yang menyebutkan bahwa negara Kuba berada di ambang keruntuhan. Trump menegaskan bahwa Kuba tidak akan mampu bertahan hidup tanpa ketergantungan penuh pada pasokan minyak dan dukungan finansial dari Venezuela.
“Secara total, Kuba bergantung pada Venezuela, baik untuk uang maupun untuk minyak. Kuba memberikan perlindungan kepada Venezuela, dan sebaliknya Venezuela memberikan dana melalui minyak,” ungkap Trump dalam sesi wawancara eksklusif bersama Fox News.
Kandaskan Hubungan Bilateral, AS Ambil Alih Kendali Minyak
Trump menyatakan bahwa hubungan erat antara kedua negara tersebut kini telah berakhir menyusul operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat di Venezuela. Ketika ditanya mengenai kelangsungan hidup Kuba tanpa dukungan Caracas, Trump dengan tegas menyatakan bahwa negara itu sepenuhnya lumpuh tanpa bantuan finansial dan energi dari tetangganya.
Lebih lanjut, Trump mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa Amerika Serikat kini mengelola aliran minyak Venezuela senilai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp67,4 triliun) dalam satu hari saja. Ia berencana membawa masuk perusahaan-perusahaan minyak raksasa untuk membangun kembali sektor tersebut dan menjanjikan keuntungan bagi rakyat Venezuela.
Penangkapan Nicolas Maduro dan Babak Baru Venezuela
Situasi geopolitik semakin memanas setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya dibawa ke New York untuk menghadapi pengadilan atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan “narkoterorisme” yang dianggap mengancam keamanan Amerika Serikat.
Menanggapi krisis ini, Mahkamah Agung Venezuela telah mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara. Sementara itu, pemerintah di Caracas mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar pertemuan darurat guna membahas intervensi militer yang dilakukan oleh pihak Washington.