Gara-gara Ini, Trump Naikkan Tarif Produk Korsel Jadi 25 Persen!
Senin, 30 Mar 2026 04:26 WIB
Kabarmalam.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat kejutan besar di dunia perdagangan internasional. Trump secara resmi mengumumkan kenaikan tarif impor bagi produk-produk asal Korea Selatan (Korsel) dari 15 persen menjadi 25 persen. Kebijakan ini menyasar sektor-sektor vital seperti otomotif, kayu, hingga farmasi.
Alasan Kenaikan Tarif yang Mengejutkan
Keputusan ini diambil Trump lantaran ia menilai badan legislatif Korea Selatan tidak segera mengesahkan perjanjian perdagangan bilateral yang telah disepakati sebelumnya. Trump menuding pihak Korsel telah melanggar komitmen yang sudah dibentuk bersama pemerintahannya.
“Mengingat badan legislatif Korsel belum mengesahkan Perjanjian Perdagangan Bersejarah kami, dengan ini saya menaikkan tarif terhadap produk otomotif, kayu, dan farmasi asal Korsel menjadi 25 persen,” tegas Trump melalui unggahan di media sosial.
Kesepakatan Besar yang Terancam Batal
Padahal, pada Oktober 2025 lalu, Trump dan Presiden Korsel Lee Jae Myung telah memfinalisasi kesepakatan yang menyebutkan bahwa AS hanya akan memberlakukan tarif sebesar 15 persen. Sebagai gantinya, Korea Selatan setuju untuk melakukan investasi besar-besaran senilai 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat.
Namun, Trump kini merasa Korsel tidak memenuhi janjinya. “Badan Legislatif Korsel tidak memenuhi kesepakatannya dengan AS,” tambahnya.
Langkah Darurat Pemerintah Korea Selatan
Merespons situasi panas ini, kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi dari Washington terkait kenaikan tarif terbaru tersebut. Sebagai langkah antisipasi, Menteri Perdagangan Korea Selatan dijadwalkan akan segera mengunjungi AS untuk melakukan negosiasi ulang dan membahas masalah tarif ini secara langsung.
Korea Selatan merupakan salah satu mitra dagang utama bagi Amerika Serikat, di mana dalam beberapa tahun terakhir nilai impor barang dari negara tersebut ke AS telah mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS.