IHSG Terancam Merosot ke Level 6.800? Simak Dampak Ngeri Konflik AS-Iran Bagi Investor!
Minggu, 29 Mar 2026 05:18 WIB
Kabarmalam.com – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu ini diprediksi akan bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Para pelaku pasar saat ini tengah memantau ketat perkembangan eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang kian memanas.
IHSG dibuka melorot 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62 pada pagi tadi. Sementara itu, kelompok saham unggulan LQ45 mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,20 poin ke posisi 723,60. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut IHSG berpotensi menguji level support kuat di kisaran 6.800 hingga 7.000.
Bayang-bayang Perang dan Lonjakan Harga Energi
Tensi di Timur Tengah menjadi sorotan utama setelah Donald Trump memberikan sinyal penundaan serangan militer ke Iran demi jalur negosiasi. Namun, pihak Iran justru membantah klaim tersebut dan balik mengancam akan menyerang infrastruktur vital milik AS serta Israel jika kedaulatan energi mereka diganggu.
Gejolak ini memicu kekhawatiran akan meroketnya harga minyak mentah dunia. Akibatnya, bank sentral dunia seperti The Fed hingga ECB kini dalam posisi siaga penuh mengantisipasi lonjakan inflasi. Investor pun mulai pesimis terhadap rencana penurunan suku bunga yang sempat diproyeksikan sebelumnya.
Langkah Darurat BI dan Rencana WFH ASN
Menghadapi tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) resmi memperketat aturan pembelian dolar AS. Kini, pembelian di atas 50 ribu dolar AS wajib melampirkan dokumen pendukung, turun dari batas sebelumnya yang mencapai 100 ribu dolar AS. Langkah ini diambil guna meredam aksi spekulasi yang bisa memperburuk volatilitas nilai tukar Rupiah.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga tengah mengkaji kebijakan efisiensi besar-besaran, termasuk wacana penerapan Work From Home (WFH) atau opsi kerja empat hari sepekan bagi ASN dan karyawan swasta demi menghemat konsumsi BBM nasional. Langkah ini diambil untuk menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga komoditas energi global.
Kondisi Bursa Global dan Asia
Saat bursa Wall Street di Amerika Serikat terkapar di zona merah, pasar saham Asia justru menunjukkan ketangguhan. Indeks Nikkei Jepang meroket lebih dari 2 persen, disusul oleh Hang Seng dan Shanghai yang juga kompak menguat. Investor kini menantikan kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam merespons ketidakpastian global ini.