Nasib Kuba di Ujung Tanduk! Trump Sebut Tanpa Minyak Venezuela Mereka Tak Akan Bertahan
Kamis, 26 Mar 2026 22:53 WIB
Kabarmalam.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu ketegangan diplomatik di kawasan Amerika Latin. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Trump menegaskan bahwa negara Kuba berada dalam posisi yang sangat rentan. Menurutnya, Kuba tidak akan sanggup bertahan lebih lama tanpa adanya pasokan minyak yang selama ini mengalir deras dari sekutu terdekatnya, Venezuela.
Ketergantungan Total Kuba pada Energi Venezuela
Trump menjelaskan bahwa selama ini telah terjadi hubungan simbiosis yang sangat kuat antara Havana dan Caracas. Kuba dianggap memberikan perlindungan keamanan bagi rezim Venezuela, sementara sebagai imbalannya, Venezuela mengucurkan dana dan pasokan energi berupa minyak dalam jumlah besar. “Secara total, Kuba bergantung pada Venezuela, baik untuk uang maupun untuk minyak. Kuba memberikan perlindungan kepada Venezuela, dan Venezuela memberikan uang kepada Kuba melalui minyak,” tegas Trump saat berbicara kepada Fox News.
Lebih lanjut, Trump menambahkan bahwa pola hubungan bilateral ini kini telah mencapai titik akhir. Hal ini dipicu oleh intervensi militer dan operasi besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat di Venezuela. Tanpa adanya sokongan finansial dan energi dari Venezuela, Trump meyakini stabilitas ekonomi di Kuba akan segera goyah dan negara tersebut akan menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rencana Besar Trump Atas Cadangan Minyak Venezuela
Dalam pernyataannya yang blak-blakan, Trump juga menyinggung mengenai kendali Amerika Serikat atas sumber daya minyak di Venezuela pasca operasi militer. Ia mengeklaim bahwa saat ini Amerika Serikat telah mengamankan nilai minyak yang sangat fantastis dari negara tersebut. “Minyak yang kami ambil nilainya mencapai 4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp67,4 triliun dalam satu hari saja, dan jumlah itu akan terus meningkat,” ungkapnya dengan penuh percaya diri.
Trump berjanji akan membangun kembali industri minyak tersebut dengan melibatkan berbagai perusahaan minyak besar dunia. Ia menjanjikan keuntungan yang masif bagi para investor, sembari mengeklaim bahwa sebagian dari hasil penjualan minyak tersebut nantinya akan dialokasikan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat. Otoritas sementara di Venezuela dikabarkan akan mentransfer antara 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS untuk dijual dengan harga pasar yang kompetitif.
Penangkapan Nicolas Maduro dan Pergeseran Kekuasaan di Caracas
Kondisi panas ini tidak lepas dari peristiwa dramatis yang terjadi pada awal Januari lalu. Pasukan Amerika Serikat melancarkan operasi kilat yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya kini telah dibawa ke New York untuk menghadapi meja hijau atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan “narkoterorisme”. Trump menegaskan bahwa tindakan tegas ini diambil karena Maduro dianggap sebagai ancaman keamanan yang serius bagi stabilitas regional dan Amerika Serikat.
Menanggapi kekosongan kekuasaan tersebut, Mahkamah Agung Venezuela mengambil langkah darurat dengan mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez. Rodriguez kini secara resmi menjabat sebagai presiden sementara setelah dilantik di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari lalu. Sementara itu, pihak pemerintah di Caracas mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar pertemuan darurat guna memprotes tindakan Amerika Serikat yang dianggap melanggar kedaulatan negara mereka.