Menuju 100 Tahun Jam Gadang, Wali Kota Bukittinggi Temui Dubes Jerman, Belanda, dan Inggris
Senin, 23 Mar 2026 14:54 WIB
Kabarmalam.com – Bukittinggi — Menyambut peringatan satu abad ikon bersejarah Jam Gadang, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengambil langkah diplomasi budaya dengan menemui tiga duta besar dari negara yang memiliki keterkaitan historis dengan bangunan tersebut.
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Maret itu melibatkan perwakilan dari Jerman, Belanda, dan Inggris. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menggali lebih dalam sejarah pembangunan Jam Gadang yang berdiri sejak 1926, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Ramlan menjelaskan bahwa setiap negara memiliki keterkaitan unik dengan Jam Gadang. Belanda, sebagai pihak yang membangun pada masa kolonial; Jerman, sebagai tempat pembuatan mesin jam; serta Inggris, karena memiliki jam serupa yang mendunia, yakni Big Ben.
“Pendalaman sejarah ini penting agar generasi sekarang memahami perjalanan bangsa dan tidak melupakan akar sejarahnya,” ujarnya, Senin.
Jam Gadang bukan sekadar bangunan bersejarah setinggi 27 meter, tetapi juga simbol perjalanan panjang bangsa Indonesia. Bukittinggi sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah nasional, termasuk sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara.
Selain itu, pemerintah daerah juga ingin menelusuri lebih jauh alasan di balik hadiah mesin Jam Gadang dari Ratu Wilhelmina yang hingga kini menjadi bagian penting dari identitas kota.
Untuk memeriahkan peringatan 100 tahun Jam Gadang pada Juni 2026, Pemerintah Kota Bukittinggi telah menyiapkan delapan agenda utama. Di antaranya Jam Gadang Cultural Night, seminar internasional diplomasi Bukittinggi-Amsterdam, seminar nasional sejarah perjuangan, hingga pameran fotografi dan festival seni.
Tak hanya itu, akan digelar pula seminar internasional terkait arsitektur dan mesin Jam Gadang, Pekan Cinema Bukittinggi, lomba sastra tingkat nasional, hingga kegiatan unik seperti sarapan pagi gratis bagi masyarakat.
Dengan rangkaian agenda tersebut, Bukittinggi tidak hanya merayakan usia bangunan bersejarah, tetapi juga menghidupkan kembali narasi besar tentang identitas, diplomasi, dan perjalanan panjang Indonesia di mata dunia.