BALIK KE MASA LALU? HP 2026 Diramal Pakai Fitur Jadul Lagi—Ini Alasannya!
Minggu, 22 Mar 2026 15:44 WIB
Arsip foto - Pelanggan memilih perangkat di gerai penyewaan ponsel di Cimahi, Jawa Barat.
Kabarmalam.com — Tren smartphone pada 2026 diperkirakan akan mengalami pergeseran yang cukup mengejutkan. Sejumlah produsen disebut-sebut mulai mempertimbangkan untuk menghadirkan kembali fitur-fitur lama pada perangkat terbaru mereka.
Informasi ini mencuat dari bocoran yang dibagikan oleh Digital Chat Station (DCS) di platform Weibo, sebagaimana dilaporkan Kabarmalam.com. Dalam bocoran tersebut, beberapa ponsel yang meluncur pada 2026 kemungkinan tidak lagi mengusung spesifikasi “tertinggi” seperti yang selama ini menjadi standar industri.
Alih-alih menghadirkan RAM besar hingga belasan gigabyte, beberapa model justru disebut akan mentok di konfigurasi 8GB RAM dengan penyimpanan internal maksimal 512GB. Tak hanya itu, desain lama seperti layar waterdrop-notch dengan refresh rate 90Hz juga diprediksi akan kembali digunakan.
Perubahan lain yang cukup mencolok adalah kemungkinan kembalinya slot kartu microSD serta penggunaan material bingkai plastik, lengkap dengan sensor sidik jari optik dengan fokus pendek. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan tren saat ini yang mengarah pada layar punch-hole, refresh rate tinggi, serta material premium seperti logam dan kaca.
Meski terdengar seperti langkah mundur, keputusan ini bukan tanpa alasan. Kenaikan harga komponen, terutama RAM dan penyimpanan, menjadi faktor utama yang mendorong produsen melakukan penyesuaian strategi.
Beberapa merek besar asal China seperti OnePlus, Oppo, Vivo, hingga iQOO diketahui telah menaikkan harga pada lini perangkat terjangkau mereka. Bahkan Samsung juga mulai melakukan penyesuaian harga di pasar penting seperti India.
Di sisi lain, daya beli konsumen tidak selalu meningkat seiring dengan naiknya harga perangkat. Kondisi ini memaksa produsen mencari keseimbangan antara spesifikasi dan harga jual agar tetap kompetitif di pasar.
Dengan menghidupkan kembali fitur-fitur lama, perusahaan dapat menekan biaya produksi tanpa sepenuhnya mengorbankan pengalaman pengguna. Bahkan, beberapa fitur seperti slot microSD justru masih dianggap penting oleh sebagian pengguna karena menawarkan fleksibilitas penyimpanan.
Langkah ini menunjukkan bahwa industri smartphone mungkin sedang memasuki fase baru—bukan lagi sekadar adu spesifikasi, tetapi juga soal efisiensi dan relevansi bagi konsumen.